0

Keren

Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil pengamatan dan pemikiran selama bertahun-tahun. Tulisan ini bersifat sangat subjektif.

Tidak ada orang yang benar-benar keren. Alasan kenapa orang terlihat keren adalah karena kita tidak menjalani kehidupan seperti orang lain yang kita anggap keren itu. 

Misalnya, ada orang yang jago ngoding. Orang yang belum bisa ngoding pasti melihatnya keren sekali. Tapi orang yang sehari-harinya ngoding dan punya skill yang nggak kalah hebat pasti melihatnya biasa aja. Bukannya sok, tapi ketika sesuatu sudah menjadi rutinitas, kadang sesuatu itu sudah tidak dianggap istimewa lagi. 

Contoh lain lagi, pernah ada berita yang sempat viral tentang pramugari yang sholat di perjalanan. Banyak orang yang menganggap itu ‘wow’. Tapi orang yang sudah biasa melakukan hal itu (sholat di perjalanan) mungkin menganggapnya bukan sesuatu yang luar biasa. Bukan tidak senang ada berita seperti itu, tapi pemberitaan yang beredar rasa-rasanya agak sedikit berlebihan. 

Kesimpulannya apa?

Baca lebih lanjut

0

Sederhana Tapi Sulit

Dalam bahasa Jawa, “manusia” disebut dengan “manungsa”. Manungsa sendiri kerap disebut sebagai akronim dari manunggaling rasa (kesatuan rasa). Ada banyak penafsiran tentang hal ini. Beberapa hari yang lalu, saya mendengar seorang bupati menafsirkan hal ini di salah satu acara talkshow di televisi. 

Menurutnya, manunggaling rasa itu dapat dimaknai bahwa kita harus mampu memperlakukan orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan. Jika kita ingin dihormati, hormatilah orang lain. Jika kita tidak suka didzolimi, jangan mendzolimi orang lain. Dan seterusnya. 

Sesimpel itu. Sesulit itu. 

Baca lebih lanjut

0

Le Petit Prince (Pangeran Cilik)

On ne voit bien qu’avec le cœur, l’essentiel est invisible pour les yeux.

Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata.

Le Petit Prince adalah salah satu buku yang sangat legendaris. Ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry pada tahun 1943, buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Buku ini juga sempat diadaptasi menjadi sebuah film animasi dengan judul yang sama pada tahun 2015. Banyak yang berpendapat bahwa buku ini merupakan sepenggal autobiografi dari Saint-Exupéry sebagai upaya untuk meredam masalah dalam pernikahannya, atau mengenang masa kanak-kanak (karena tidak ingin menghadapi masa kini), atau ucapan selamat tinggal akan kepergiannya yang misterius tahun 1944. 
Baca lebih lanjut

0

한글 — Bagian 3

Setelah sebelumnya saya sudah membahas tentang huruf-huruf yang digunakan dalam alfabet Korea, baik huruf vokal maupun huruf konsonan, kali ini saya akan melanjutkan pembahasan tentang suku kata. Alfabet hangeul harus dituliskan dengan mengumpulkan konsonan dan vokal agar dapat dilafalkan. Konsonan dapat ditempatkan pada posisi bunyi awal (초성) atau bunyi akhir suku kata (종성), sedangkan vokal ditempatkan pada posisi bunyi tengah (중성). 

Cara penulisan untuk menggabungkan konsonan dan vokal menjadi suku kata ada 6 cara, tergantung huruf yang digunakan. Masing-masingnya dapat dilihat sebagai berikut. 

Baca lebih lanjut

0

한글 — Bagian 2

Setelah pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas tentang huruf vokal, pada tulisan ini, saya akan membahas tentang huruf konsonan. Dalam hangeul, huruf konsonan jumlahnya ada 19 huruf. Dari 19 huruf ini, 14 di antaranya adalah konsonan dasar dan 5 sisanya adalah konsonan ganda. 

Konsonan tidak dapat dibunyikan apabila dia berdiri sendiri. Konsonan harus bertemu dengan huruf vokal untuk membentuk suku kata agar dapat dilafalkan.  Konsonan dapat dilafalkan dengan satu atau lebih cara sesuai dengan vokal yang mengikutinya dan posisinya dalam suku kata. 

Baca lebih lanjut

0

한글 — Bagian 1

한글 (hangeul) adalah sistem alfabet dalam bahasa Korea. Sebelum hangeul diciptakan, rakyat Korea menggunakan huruf karakter Cina dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun karena huruf karakter Cina jumlahnya sangat banyak,  rumit, dan sulit dipelajari, seringkali rakyat jelata menghadapi kesulitan dalam menggunakannya. 

Pada tahun 1443 (zaman Joseon), Raja Sejong dan beberapa ilmuwan pada saat itu membuat susunan sistem alfabet Korea yang lebih mudah dipelajari. Saat diciptakan, sistem ini disebut dengan “훈민정음” (hunminjeoungeum) yang artinya “bunyi tepat untuk mengajari rakyat”.

Sama seperti sistem alfabet yang biasa kita gunakan, dalam hangeul juga ada 2 jenis huruf yaitu huruf vokal dan huruf konsonan. Dulunya, dalam hangeul ada 17 huruf konsonan dan 11 huruf vokal. Akan tetapi, yang digunakan saat ini totalnya ada 40 huruf, yang terdiri atas 19 huruf konsonan dan 21 huruf vokal.

Agar tidak terlalu panjang, pada tulisan kali ini, saya akan membahas tentang huruf vokal terlebih dahulu. Perlu diingat, semua yang saya tuliskan di sini bersumber dari buku kursusan teman saya.(;^ω^)

Baca lebih lanjut