Modul Itu..

Ini adalah tulisan yang berasal dari pemikiran saya hari Selasa kemarin. Ceritanya, semester ini, saya mendapat tugas untuk menjadi dosen pengampu mata kuliah Teori Bahasa dan Otomata. Awalnya agak sedikit frustrated juga, karena jujur, mata kuliah itu bukan berada di kompetensi yang benar-benar saya kuasai.  Namun demikian, karena dulu waktu kuliah S1 saya pernah mendapatkan mata kuliah itu, sedikit demi sedikit, ingatan masa lalu pun berkelebat di benak saya. *halah, padahal cuma ingat judul-judulnya xD*

Karena rentang waktu antara “pemberian” status sebagai dosen pengampu dengan awal kuliah relatif singkat, saya pun memilih belajar dari modul yang sudah ada dan mencoba mengajar berdasarkan silabus yang diberikan. Walhasil, membaca modul bukannya cepat paham malah semakin pusing. Pasalnya, penjelasan yang diberikan di modul yang ada relatif pendek dan agak kurang sistematis. Puncaknya kemarin, ketika saya mencoba membaca tentang bottom up parsing selama berjam-jam dan sepanjang hari hanya bisa mengatakan: 이게뭐야!!! x_x

Dari sana, saya terpikir untuk membuat tulisan ini.

Jadi, menurut saya, sebuah modul itu seharusnya memang singkat dan padat, namun jelas. Penjelasan yang terlalu bertele-tele itu tidak baik, tapi penjelasan yang terlalu singkat yang tidak jelas juga sangat mungkin membuat orang semakin bingung. Penjelasan yang disajikan juga harus runtut dan “mengalir”, sehingga orang yang membacanya akan lebih mudah memahami.

Dan satu hal yang penting juga, hendaknya pembuat modul tidak lupa mencantumkan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan (dalam hal ini, sepertinya lebih tepat jika referensi yang dicantumkan berbentuk buku). Ini penting, karena bisa jadi sumber dari modul ternyata lebih mudah dipahami dari modul yang ada. Tidak mencantumkan referensi dapat berakibat fatal. Misalnya ketika saya membaca bottom up parsing ini tadi dan tidak kunjung paham dengan penjelasan di modul. Akhirnya, saya menemukan penjelasan lain yang lebih mudah dipahami, dari sumber lain. Saya pun lebih memilih untuk mengikuti sumber tersebut, kendati penjabarannya berbeda dengan apa yang ada di modul. Ini bukannya saya merasa lebih pintar. Seandainya modul itu mencantumkan referensi yang mendukung apa yang disampaikan di modul, tentu saya akan mengikutinya.

Dan yang paling penting dan harus diingat adalah: modul itu bukan catatan. Orang yang menulis modul harusnya mempertimbangkan juga bagaimana pembacanya. Jika kita menulis catatan, tidak masalah menggunakan bahasa seperti apa, karena kita sendiri yang mengerti. Tapi jika kita menulis modul, pikirkanlah bagaimana orang akan membacanya. Bagaimana kemampuan intelektual pembacanya. Apakah penyampaian kita kira-kira jelas bagi orang lain? Apakah orang yang membacanya dapat memperoleh pemahaman yang tepat sehingga tidak kemudian membuat asumsi sendiri tentang suatu materi?

Sekali lagi, disini saya tidak memposisikan diri sebagai orang yang lebih pintar atau lebih tahu, namun sekedar evaluasi, terutama bagi saya dan bagi orang-orang lain yang pernah, sedang, atau akan membuat modul. Semoga dengan ini, kita bisa membuat modul yang lebih baik lagi, sehingga nantinya kita dapat membantu menyukseskan tujuan bangsa Indonesia yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s