How to Master Your Habits

Today is the third day of Islamic new year 1432 Hijriyah. And it’s been 2 months since my last update. 미안해… -_-

Hari ini, saya ingin menuliskan resensi dari sebuah buku yang baru beberapa hari yang lalu selesai saya baca. Apparently, ini pertama kalinya saya menulis resensi buku di blog ini. Ya semoga ke depannya saya dapat lebih sering membagikan  hal-hal yang seperti ini, sehingga blog ini juga akan semakin ramai, dan tentunya dapat membawa lebih banyak manfaat pada para pembaca sekalian. Aamiin. ^^

Buku yang akan saya resensi pada tulisan ini adalah sebuah buku yang ditulis oleh seorang Ustadz muda yang bernama Felix Siauw (aktivis Twitter pasti kenal sama orang ini :P ). Buku ini berjudul “How to Master Your Habits”.

habits

Menurut saya, buku ini menarik, karena pada dasarnya apa yang disampaikan di dalamnya sederhana namun cukup mengena. Tentang habits (kebiasaan). Intinya, pada semua bab di buku ini disampaikan bahwa habits dapat dituliskan dalam formula berikut ini:

Habits = Practice + Repetition

Yep, just that simple. Ever wonder kenapa ada orang yang sukses dan ada orang yang gagal? Kenapa ada orang yang skillful dan ada orang yang lacking of skill? Jawabannya ya habits itu tadi.

Jika kita melihat orang lain lebih sukses atau lebih skillful dari kita, sebenarnya kita tidak perlu terlalu amazed. Kita pun sebenarnya dapat menjadi seperti mereka jika kita tahu rahasianya. Apa rahasianya? Habits! Orang yang lebih sukses pasti memiliki habits yang tidak kita miliki. Contoh sederhananya, mengapa ada orang Indonesia yang sudah berumur 20-an namun tidak bisa lancar berbahasa Arab, sementara di Timur Tengah sana, anak-anak kecil saja sudah lancar berbahasa Arab? Maybe you’re going to say, you don’t say?!. Karena tanpa berpikir panjang pun kita sudah tahu jawabannya. Orang Indonesia tadi biasa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, sedangkan anak-anak di Timur Tengah tadi biasa berkomunikasi dengan bahasa Arab. That is the answer. Biasa. Kebiasaan. Habits!

Atau contoh yang lain, mengapa Taufik Hidayat jago banget main badminton? Bakat? Well, mungkin ada sedikit unsur itu. Tapi jika hanya mengandalkan bakat saja, apa mungkin dia sejago itu? Tentu saja tidak. Bakat yang dia miliki akan terus diasah dengan berlatih (in other wordpractice). Latihannya pun bukan sekali atau dua kali, tapi pasti sudah ratusan hingga ribuan kali (in other wordrepetition). Jika sudah demikian, permainan yang menurut kita “wow” pun menurut dia mungkin biasa saja. Mengapa? Karena dia sudah terbiasa.

So, what’s the point? Nothing is impossible. We can do anything we want to do, we can be anything we want to be.  Rumusnya sederhana: latihan berulang-ulang hingga hal itu menjadi kebiasaan. Dan, ketika sesuatu sudah menjadi kebiasaan, maka sesuatu itu akan otomatis dapat kita lakukan. Oke banget kan, otomatis, tanpa kita perlu berpikir. Di satu sisi, jika hal ini diaplikasikan pada hal-hal yang baik, maka hasilnya juga akan baik pula. Namun sebaliknya, jika kita biasa melakukan hal-hal buruk, ini dapat menjadi fatal. So, we have to master our habits, in order to use it for good things only. 

Untuk memulai sesuatu yang baik, akan lebih wise jika kita tahu mengapa kita harus melakukan sesuatu itu. Kita harus punya “strong why” dan meyakini “strong why” itu. Misalnya, ada rekan-rekan muslimah yang mungkin belum berhijab. Mungkin beberapa dari mereka ada yang memang belum tahu mengapa harus berhijab. Namun boleh jadi juga ada yang sudah tahu namun belum benar-benar meyakini bahwa hal itu harus dilakukan saat ini. Bagaimana kita bisa melakukan sesuatu jika kita tidak yakin harus melakukannya?

Nah sekarang, bagaimana cara memiliki kebiasaan yang baik? Ya dibiasakan, bagaimana pun caranya. Dan kita sebenarnya tidak perlu memiliki niat tertentu, misalnya “aku harus bangun pagi tiap hari”, “aku harus rajin baca buku”, atau yang lainnya, karena apa yang kita inginkan Insya Allah PASTI dapat kita lakukan jika sudah kita latih berulang kali. Tapi jika memang belum terbiasa, untuk pertama kali, kita boleh memiliki niat tadi, namun jangan lupa untuk menuliskannya dan meletakkannya di tempat-tempat yang biasa kita lihat. Akan lebih baik jika niat kita tadi ditempelkan dengan hal lain yang sudah menjadi kebiasaan kita. Misalnya, “aku akan baca Qur’an setiap hari setelah sholat Subuh”. Tidak perlu dulu membuat target terlalu tinggi, misalnya “harus 1/2 juz”. Biasakan saja dulu. Nanti jika sudah terbiasa, jangankan 1/2 juz, 1 juz pun tidak akan terasa berat.

Jika kita sudah berhasil memulai, hal berikutnya yang harus kita lakukan adalah mengulanginya dengan istiqomah. Sampai berapa lama? Boleh jadi 10 hari, 30 hari, 100 hari, relatif. Yang jelas, sampai kita tidak merasa berat untuk melakukannya. And 1 thing to remember, don’t give yourself an excuse. Misalnya, “hari ini nggak dulu deh”, “sekali ini aja gapapa deh”, atau hal-hal yang seperti itu. That’s bad for our habits. Sekali kita membuat excuse, akan lebih sulit untuk memulai kebiasaan itu lagi. Theoritically gampang sih ngomongnya, tapi ketika godaan itu datang, belum tentu kita bisa menghindar darinya. Maka dari itu, jika kita memang ingin memiliki kebiasaan yang baik, istiqomahlah. Karena jika kita tidak istiqomah dengan yang baik, boleh jadi kita malah terbiasa dengan hal-hal yang kurang baik. Naudzubillah.

Sebenarnya masih banyak hal lagi yang dapat diambil hikmahnya setelah membaca buku ini. Ya, mungkin akan lebih mengena jika anda membacanya sendiri. :D

Lastly, berhubung masih dalam suasana tahun baru Hijriyah, saya ingin membuat 1 resolusi yang nggak muluk-muluk, and that is: filling my days with good habits. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s