Coretan Penaku

Hello again after a while.. ^^
It’s already 2014, and it’s almost the end of the first month.. and I haven’t post anything yet!! ㅋㅋ ;P

Tere Liye

Baiklah, saya akan membuka tahun 2014 ini (walaupun terlambat) dengan sebuah tulisan tentang “menulis”. Singkat cerita, hari Ahad kemarin (27 Januari), saya menghadiri sebuah talkshow berjudul “Coretan Penaku – Melatih Imajinasi dengan Menulis”. Pengisinya Bang Tere Liye, penulis novel Hafalan Shalat Delisa, Bidadari2 Surga, Negeri Para Bedebah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Walaupun sesinya cukup singkat (tidak sampai 2 jam), ada beberapa hal yang saya dapatkan dari talkshow ini. Langsung saja sampaikan dalam poin-poin berikut ini.

#1. Mengapa harus menulis?

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Di manapun kita, bagaimanapun keadaan kita, kita harus dapat memberi manfaat bagi orang lain. Kita pasti tahu bahwa kita tidak mungkin selamanya hidup di dunia ini. Akan ada saatnya kita akan kembali menghadap Sang Maha Kuasa. Kita juga pasti pernah belajar bahwa salah satu amalan yang tidak akan terputus adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang kita bagikan kepada orang lain Insya Allah akan menjadi tabungan kita nanti.

Akan tetapi, manusia itu tempatnya salah dan lupa. Boleh jadi sekarang kita memiliki/ menyampaikan sebuah ilmu, namun seiring dengan berjalannya waktu, ilmu tersebut akan terlupakan. Karena itu, tidak salah jika Ali bin Abi Thalib pernah mengucap sebuah quote:

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Karena ilmu itu seperti binatang ternak. Jika tidak diikat, dia akan lari. Maka dari itu, menulis itu penting. Sampai berpuluh-puluh tahun lagi pun tulisan kita dapat tetap ada dan diambil manfaatnya. Isn’t it amazing?

Oiya, sebelumnya, ada satu hal yang perlu digarisbawahi di sini. Walaupun kita menulis agar dapat diambil manfaatnya, jangan berorientasi pada pembaca. Penulis yang baik tidak akan terlalu memikirkan apakah ada orang yang mau membaca karyanya atau tidak. Mengapa? Karena hal tersebut dapat membuat kita ragu. Jika sebelum menulis kita berpikir, “kira-kira ada yang mau baca tulisan ini nggak ya?”, most likely kita tidak akan mulai menulis. So, jika ingin menulis, menulislah. Pun seandainya tidak ada orang yang membacanya, minimal penulisnya sendiri sudah mendapatkan manfaat dari apa yang dituliskannya.

#2. Harus menulis apa?

Ini juga salah satu pertanyaan yang umumnya muncul ketika seseorang ingin mulai menulis. Untuk poin ini, Bang Tere memberikan tips:

  • Temukan apa yang kamu inginkan
    You don’t say? Hehe.. Tanpa diberitahu pun harusnya kita tahu. Seandainya kita tidak tahu apa yang kita inginkan, ya mungkin kita saja yang malas berpikir.
  • Passion
    Ini penting juga untuk membuat kita bersemangat dalam menulis. Maksudnya begini, misalnya kita punya passion di bidang programming, kita dapat menulis tentang tutorial pemrograman. Atau misalnya kita senang memasak, kita dapat menulis resep masakan. And everyone should have their own passion, right?! So, daripada bingung, write according to your passion. :)

#3. Menulis adalah proses yang dibiasakan

Nah, disini, lagi-lagi muncul kata ini: dibiasakan -> pembiasaan -> kebiasaan -> habit! Ingat kata ustadz Felix Siauw di buku How To Master Your Habits? Yep, habits = practice + repetition. Kebiasaan adalah buah dari latihan yang berulang-ulang. Bang Tere sendiri mencontohkan, dalam waktu yang berbeda, beliau pernah bertanya pada ibunya dan istrinya, “Bagaimana cara membuat masakan yang enak?”. Jawaban dari ibu dan istrinya ternyata sama, “Ya dimasak-masak aja,” alias dikerjakan saja tanpa perlu terlalu banyak berpikir atau bertanya. Maka dari itu, jika ada yang bertanya pada Bang Tere, “Bagaimana cara membuat tulisan yang bagus?”, Bang Tere pasti akan menjawab, “Ya ditulis-tulis aja.”

Intinya, jika kita menginginkan sebuah pencapaian dalam hidup kita, apapun itu, ya lakukan dan biasakanlah mulai dari sekarang. Sesekali bertanya kepada orang yang lebih berilmu itu tidak apa-apa. Akan tetapi, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bertanya. Jika kita terus menerus bertanya, kapan mulai action-nya?

Dari materi sih, sebenarnya hanya itu saja. Namun demikian, ada juga beberapa tips yang dibagikan Bang Tere dalam sesi tanya jawab.

# Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Jika kita ingin menjadi penulis, banyak-banyaklah membaca. Jika kita tidak banyak membaca namun tetap ingin menjadi penulis, berpetualanglah. Jika berpetualang pun tidak sempat, minimal bergaullah dengan orang-orang yang berwawasan luas.

# Berlatihlah menjadi pengamat yang baik, karena orang-orang yang suka mengamati akan menemukan sesuatu yang spesial. Semakin banyak mengamati, semakin besar kemungkinan untuk menemukan sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu. Karena itu, berlatihlah untuk sensitif dengan keadaan di sekitar kita.

# Jangan pernah cemas dengan tulisan anda. Cemaslah jika anda berhenti menulis. *kalimat keduanya makjep* ;P

Di akhir sesi, Bang Tere memberikan sebuah quote penutup, yang konon katanya ini adalah pepatah Cina.

Waktu terbaik untuk menanam pohon yang baik adalah 20 tahun yang lalu. Jika kita belum melakukannya, waktu terbaik kedua adalah hari ini, karena 20 tahun lagi niscaya kita akan memetik hasilnya.

Semoga bermanfaat. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s