Hujan

Kali ini saya akan kembali membuat review tentang buku. Berbeda dari sebelumnya, kali ini bukunya jenis novel. Buku ini lumayan ngehits saat ini (yay, aku kekinian! wkwkwk). Perlu bukti?

20160401_071415

See? Diterbitkan pertama kali bulan Januari 2016. Sementara buku yang saya beli sudah cetakan ke-12. Dan novel ini berjudul.. HUJAN.

20160331_151624

Udah lama banget gak baca novel. Sekalinya baca lagi, entah kenapa rasanya immersed banget ke ceritanya. Baper kalo kata anak jaman sekarang. Somehow feeling gloomy for no reason.

Novel ini dimulai dari ketika Lail, seorang gadis yang berumur hampir 21 tahun, pergi menemui seorang paramedis senior bernama Elijah untuk memodifikasi ingatan. Menghapus memori-memori yang menyakitkan. Saat itu tahun 2050, teknologi sudah sangat maju. Menghapus memori dapat dilakukan dengan sangat mudah. Prosedurnya, sebelum operasi penghapusan memori dilakukan, peta saraf otak secara keseluruhan harus dibuat terlebih dahulu. Untuk dapat memetakannya, pasien diminta mengenakan bando pemindai di kepalanya, kemudian menceritakan dan mengingat semua memori itu. Pemindai akan merepresentasikan memori yang baik dengan benang warna biru, yang netral dengan warna kuning, dan yang menyakitkan dengan warna merah. Nantinya setelah peta saraf terbentuk lengkap, pasien akan dimasukkan ke dalam satu mesin dan mesin itu akan menghapus benang memori yang berwarna merah. Eh, kok jadi jelasin cara kerja mesinnya ya? Hehe, maafkeun, maklum anak teknik. :p

Oke, setting waktunya memang tahun 2050, tapi karena Lail harus menceritakan masa lalunya, alur novel ini jadi maju mundur. Memori paling lama yang diceritakan disini adalah tahun 2042, ketika dunia baik-baik saja, ketika Lail masih berumur 13 tahun dan masih memiliki keluarga. Tapi kemudian semuanya berubah dalam sekejap. Terjadi letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Letusan ini juga mengakibatkan gempa bumi dan tsunami. Lail kehilangan semua anggota keluarganya. Lail pun sebenarnya hampir menjadi korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun ada diselamatkan oleh seorang anak laki-laki. Anak itu bernama Esok (nama lengkap: Soke Bahtera), dua tahun lebih tua daripada Lail.

Esok adalah seorang anak yang jenius. Esok juga kehilangan hampir semua anggota keluarganya, kecuali ibunya. Setelah bencana terjadi, Esok dan Lail sama-sama tinggal di pengungsian. Karena usia mereka tidak berbeda jauh, mereka pun menjadi teman dekat. Ketika kondisi alam berangsur membaik dan kota mulai dibangun kembali, mereka pun harus berpisah. Lail tinggal di panti sosial, sementara Esok tinggal bersama keluarga angkatnya. Mereka masih tetap bertemu sesekali.

Di panti sosial, Lail bertemu dengan seorang anak bernama Maryam. Mereka tinggal bersama sebagai teman sekamar dan lambat laun menjadi sahabat karib yang selalu seperjuangan. Mulai dari kelas memasak, organisasi relawan, hingga menjadi perawat, mereka selalu bersama.

Sejatinya, novel ini female centered dengan Lail sebagai tokoh utamanya. Sampul belakang buku ini hanya bertuliskan “Tentang Persahabatan”, “Tentang Cinta”, “Tentang Melupakan”, “Tentang Perpisahan”, dan “Tentang Hujan”. Saya juga tidak akan membuat spoiler disini, karena lebih seru jika kita dari awal tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. :D

Sebelum menulis ini, saya sempat membaca review tentang novel ini di beberapa situs. Rata-rata mereka membahas romance yang ada di novel ini. Well, I’m not gonna talk about it, karena romance di novel ini intinya standar aja menurut saya. Ada cewek dan cowok yang ketemu karena nasib yang sama, berteman, lama-lama saling suka satu sama lain, tapi gak ada yang berani ngomong. Problematika cinta anak muda yang mungkin gak akan pernah berubah walaupun Metallica bikin album religi. -_-

Yang saya suka dari buku ini adalah Bang Tere mendeskripsikan every little detail secara sangat jelas, e.g.: ruangan 4×4 m2, warna lantainya apa, warna kursinya apa, tokohnya pake baju apa, dll. Karena dideskripsikan dengan jelas itulah saya jadi bisa membayangkan seperti apa suasana dari setiap kejadian yang ada pada buku ini dan akhirnya immersed to the story. Sempat mikir juga, kayaknya asik kalo buku ini bisa difilmkan (karena kebayang film-film sci-fi Hollywood). Tapi setelah nyetel TV dan lihat trailer “7 Manusia Harimau New Generation”, saya berubah pikiran. Lebih baik jangan difilmkan daripada imajinasi saya yang indah jadi rusak.

Sebenarnya ada lagi yang menurut saya harus ditambahkan di sampul belakang, selain tentang-tentang yang sudah ada tadi, yaitu “Tentang Keserakahan”. Ya, kejadian gunung meletus di awal cerita memang bencana alam, tapi permasalahan-permasalahan yang terjadi selanjutnya adalah karena ulah manusia sendiri. Gunung meletus menyebabkan musim dingin di berbagai belahan bumi. Pemimpin-pemimpin negara yang terdampak hanya memikirkan solusi cepat namun tidak memperhitungkan efek jangka panjangnya, tidak peduli walaupun solusi mereka merugikan negara lain. Dan di negara lainnya, rakyat menuntut pemerintah menyelesaikan permasalahan mereka, namun dengan cara yang anarkis. Pemerintah akhirnya membuat kebijakan yang sarat muatan politis. Demi apa? Pencitraan.

Di sisi lain, ada juga “tentang” lain yang juga perlu ditambahkan, yaitu “Tentang Menjadi Produktif”. Usia muda bukan berarti kita cuma mikir seneng-seneng aja, galau, baper masalah cinta-cintaan, endesbre endesbre. Usia tidak muda juga bukan berarti kita berhenti berkontribusi untuk masyarakat. Kita bisa menjadi relawan, menjadi scientist, atau apapun itu yang memberikan manfaat untuk orang lain. Giving something back to the society, being a part of the solution, yes we can do it no matter how old we are. Ya, walaupun sudah rahasia umum bahwa poin ini seringkali clash dengan poin di paragraf sebelumnya. Sama juga dengan yang dibahas di buku ini, dimana para ilmuwan akhirnya mencari solusi sendiri, tidak bisa beriringan dengan para pembuat kebijakan.

Jadi berasa ini buku yang berat ya? Hahaha. Enggak kok. Poin di dua paragraf di atas hanya dibahas sekilas-sekilas saja, karena yang dititikberatkan dalam buku ini sebenarnya memang romance, which I don’t want to talk about. Hanya saja romance ini secara tidak langsung memang dipengaruhi oleh berbagai kebijakan pemerintah yang kurang solutif. Dan masalahnya menjadi kompleks karena mereka (tokoh-tokoh utama di buku ini) termasuk yang secara aktif berkontribusi di masyarakat.

Yang bikin saya agak baper dan feeling gloomy disini adalah karena novel ini berbicara tentang memori. Pembahasan yang memang sering bikin saya gak enak hati. Jangankan baca buku ini, nonton “Upin Ipin” pas Opah kehilangan bakiak pemberian orang tuanya aja saya baper. Nonton “Pada Zaman Dahulu” pas Aris dan Ara mau pulang ke kota dan kebayang kenangan-kenangan mereka bersama Aki di kampung juga saya baper. Apalagi nonton scene terakhir di film Korea yang judulnya “May 18”. Beuh… Sampe trauma nonton film perang-perangan untuk beberapa lama.

Kenapa harus gak enak hati? Ya karena jika kita melihat kembali ke masa lalu, pasti ada hal-hal yang berbeda. Situations change, some people are gone, some things are missing.. and we can’t go back to those times eventhough we’re missing them a lot. We should keep moving forward no matter what. Maka dari itu, quote favorit saya dari buku ini adalah:

Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.

Bukan cuma orang, tapi bisa benda, tempat, situasi, atau yang lainnya.

Baiklah, saya sudahi disini saja sebelum saya jadi ngelantur kemana-mana. Hahahahaha. Akhir kata, selamat membaca!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s