What I Talk About When I Talk About Running

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mampir di salah satu toko buku dan menemukan buku ini.

Sesuai dengan yang dapat dibaca di sampulnya, buku ini berjudul “What I Talk About When I Talk About Running” atau yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia akan menjadi: “Apa yang Aku Bicarakan Saat Aku Membicarakan Tentang Berlari”. Buku yang saya baca ini sebenarnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, hanya saja judulnya tetap dituliskan sesuai dengan judul yang digunakan untuk buku versi bahasa Inggris. Buku ini adalah karya dari seorang penulis populer asal Jepang yang bernama Haruki Murakami. Sebenarnya ini bukan karya baru, karena buku ini diterbitkan pertama kali tahun 2007 (dalam bahasa Jepang). Tapi memang, buku versi bahasa Indonesianya masih tergolong baru, karena baru pertama kali diterbitkan awal tahun ini.

Okay, so.. Murakami? Is it a novel? Well, no.

Memang Murakami-san terkenal dengan novel-novelnya, namun buku yang satu ini bukanlah novel. Lebih tepat dikatakan memoar tentang berlari. Jangan membayangkan bahwa lari yang dibicarakan disini hanya sekedar hobi atau hanya lari-lari santai. Murakami-san menjadikan lari sebagai sebuah aktivitas serius dan memiliki target yang jelas. Dalam seminggu, dia harus berlari selama 6 hari dan setiap harinya harus berlari minimal 10 km. Tidak hanya itu, dia juga rutin mengikuti event marathon (lari 42 km) setiap tahunnya dan beberapa kali mengikuti ultramarathon (lari 100 km) dan triathlon (renang 1500 m+bersepeda 40 km+lari 10 km). Bagi seseorang yang bukan pelari seperti saya, membayangkannya saja sudah capek. ^_^a

Sedikit banyak, buku ini memang semacam catatan tentang apa yang menjadi motivasi Murakami-san untuk berlari, bagaimana dan apa yang dialami selama dia berlatih, progres yang dicapai selama latihan, apa yang terjadi saat pertandingan, dan yang terpenting adalah bagaimana dia menyikapi hal-hal yang terjadi di luar kendalinya. Semuanya dirangkum dalam 9 bab yang masing-masingnya menarik untuk disimak.

Bagi saya, ada beberapa poin baik yang dapat diambil dari buku ini, antara lain:

  • Rasa sakit itu tidak dapat dihindari, tapi penderitaan adalah sebuah pilihan. Jadi, jika kita mengalami sesuatu yang menyakitkan, pilihannya memang ada 2: meratapi rasa sakit itu (menderita) atau keep moving forward.

  • Memperbaiki diri sebaiknya jangan karena kita ingin menjadi lebih baik daripada orang lain, karena jika orang lain itu tidak ada, mungkin kita akan kurang termotivasi. Karena itu, jika memang kita ingin berubah menjadi lebih baik, niatkanlah bahwa kita ingin menjadi lebih baik daripada diri kita di hari kemarin.

  • Apapun yang kita lakukan, lakukanlah dengan total, jangan hanya setengah-setengah. Pun seandainya kita mengalami kegagalan, gagal setelah berusaha semampu kita masih terasa lebih baik daripada menyesal karena tidak berusaha maksimal sebelumnya.

  • Kita harus memiliki prioritas dalam hidup, bagaimana kita membagi waktu dan tenaga kita untuk melakukan hal-hal sesuai prioritas kita. Jika kita tidak memiliki prioritas, hidup kita akan kurang terfokus dan menjadi tidak seimbang.

  • Banyak hal di dunia ini yang “cocok-cocokan”. Sesuatu yang cocok untuk kita belum tentu cocok untuk orang lain. Pun sebaliknya. Maka dari itu, akan lebih baik jika kita saling menghormati pilihan satu sama lain, bukan memaksakan pilihan kita kepada orang lain.

  • Dalam hidup, jalan kita tidak selalu mulus. Ada kalanya kita mengalami kegagalan karena kesalahan yang kita buat sendiri. Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah belajar dari kesalahan itu dan menjadikannya sebuah koreksi untuk langkah kita ke depannya.

  • Hal baik dari menjadi tua adalah kita akan belajar bahagia dengan apapun yang kita miliki.

  • Kadang kita memang perlu terluka saat mempelajari hal yang penting dalam hidup, karena setelah terluka, kita akan belajar untuk menjadi lebih berhati-hati.

  • Seiring kita tumbuh menjadi dewasa serta mengalami banyak kesedihan dan kebahagiaan, kita akan belajar untuk mengambil apa yang kita butuhkan dan membuang apa yang harus disingkirkan. Kita pun semakin menyadari bahwa kita memiliki kekurangan yang tidak ada habisnya. Namun daripada bersedih atas kekurangan kita, lebih baik kita mulai menerimanya untuk selanjutnya lebih fokus dengan kelebihan/ hal-hal baik yang kita miliki.

  • Kualitas dari pengalaman yang kita dapatkan bukan ditentukan oleh prestasi atau standar tertentu. Jika kita mampu melakukan sesuatu dengan baik dan penuh semangat, sesungguhnya saat itu pengalaman kita sudah berkualitas.

  • Tidak peduli bagaimana penilaian orang terhadap apa yang kita lakukan, pada akhirnya yang memiliki arti bukanlah sesuatu yang kasat mata, tetapi apa yang kita rasakan dalam hati.

Mungkin masih banyak lagi hal baik yang dapat dipetik dari buku ini. Jika anda pun sudah membaca buku ini dan memiliki kesan tertentu, boleh lah berbagi di kolom komentar.

Akhir kata, Murakami-san yang lari 10 km per hari aja masih bisa menulis novel, masa update blog aja alesaaaaan mulu? :v

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s