Ketika Anak Marah

Ada artikel bagus yang beberapa hari yang lalu di-share oleh salah seorang teman di Facebook. Artikel ini bersumber dari Huffington Post (huffpost.com) dan berjudul “Handling the Jolting yet Universal Truth: All Children Get Angry“. Artikel asli dapat dibaca di tautan ini. Di sini, saya akan menuliskan ringkasannya, sebagai catatan untuk saya sendiri dan untuk orang-orang lain yang juga membutuhkannya.

Kemarahan anak dapat diibaratkan seperti fenomena gunung es di lautan. Kita dapat melihat puncaknya, namun kita tidak pernah tahu apa yang ada di dasarnya. Kemarahan anak adalah wujud dari perasaan-perasaan yang tidak mampu mereka katakan. Sayangnya, orang tua hanya dapat melihat kemarahan mereka. Orang tua sering tidak menyadari bahwa di balik kemarahan itu, ada perasaan anak yang sedang terluka. 

Ketika seorang anak marah, sebenarnya dia sedang mencoba untuk berkomunikasi. Dia berusaha untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang besar, hal-hal yang mereka inginkan, atau hal-hal yang tidak mereka inginkan. Dia melakukan itu untuk memohon bantuan dan respon balik dari orang tua. 

Source: Screenshot Upin Ipin Episode ‘Kembara 6 Musim’


Sayangnya, respon dari orang tua sering kali tidak sinkron dengan apa yang anak harapkan karena orang tua sulit menemukan alasan kenapa anak bisa marah. Terlebih lagi, orang tua mungkin dulunya selalu dididik untuk tidak menyalurkan perasaan dengan cara marah. Karena itu, orang tua mungkin memiliki ekspektasi bahwa anak dapat melakukan hal itu juga. 

Apakah itu salah? Tentu tidak, bagi anak yang sudah paham. Tapi menuntut anak yang belum paham untuk berperilaku seperti itu mungkin sulit, karena anak bereaksi sesuai dengan apa yang mereka tahu dan mereka bisa. Kita mungkin jadi emosi karena merasa bahwa anak menyusahkan kita, padahal sebenarnya, anak lah yang lebih susah. 

Ketika anak sedang marah, jangan tinggalkan mereka. Tetaplah bersama mereka. Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga membutuhkan tempat untuk meluapkan keluh kesah. Jangan marah jika anak melampiaskan emosinya pada kita, karena itu adalah pertanda bahwa mereka percaya pada kita. Mereka percaya bahwa kita dapat membantu meringankan masalah mereka. Bukankah itu adalah hal yang baik? :)

Lalu bagaimana harusnya kita bersikap jika anak sedang marah? 

Ada 3 cara yang tepat bagi orang tua untuk merespon kemarahan anak. 

1. Tidak melakukan apa-apa

Ini adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Ketika anak marah di depan kita, mereka sejatinya tidak benar-benar marah pada kita. Dengan kita diam, anak-anak dapat melampiaskan kemarahan mereka hingga lama kelamaan kemarahan itu mereda dan mereka kembali tenang. 

2. Dengarkan mereka

Anak butuh untuk merasa didengar dan didukung ketika mereka sedang mengalami masalah. Dengarkan saja apa yang mereka katakan, tanpa ada judgement apapun. Tidak perlu mengoreksi apalagi balik marah pada mereka. 

3. Menawarkan kenyamanan

Kita sebagai orang tua selalu dapat menawarkan pelukan atau hal-hal lain yang membuat mereka nyaman. Hal ini kadang dapat membantu meringankan kemarahan mereka, walaupun kadang juga tidak. 

Intinya, semua anak pasti pernah marah. Yang akan membuat perbedaan adalah bagaimana kita sebagai orang tua menanggapi kemarahan tersebut. Karena itu, kita harus banyak belajar untuk mengendalikan emosi kita sendiri, agar kita tidak makin emosi ketika anak marah. 

Semoga bermanfaat. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s