Le Petit Prince (Pangeran Cilik)

On ne voit bien qu’avec le cœur, l’essentiel est invisible pour les yeux.

Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata.

Le Petit Prince adalah salah satu buku yang sangat legendaris. Ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry pada tahun 1943, buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Buku ini juga sempat diadaptasi menjadi sebuah film animasi dengan judul yang sama pada tahun 2015. Banyak yang berpendapat bahwa buku ini merupakan sepenggal autobiografi dari Saint-Exupéry sebagai upaya untuk meredam masalah dalam pernikahannya, atau mengenang masa kanak-kanak (karena tidak ingin menghadapi masa kini), atau ucapan selamat tinggal akan kepergiannya yang misterius tahun 1944. 

Inti cerita dalam buku ini adalah pertemuan seorang pilot dengan pangeran kecil ketika dia tengah terdampar di gurun Sahara. Pilot itu bisa sampai ke sana karena pesawat yang dikemudikannya mengalami kerusakan mesin. Sementara itu, pangeran kecil tiba di gurun itu karena “menjatuhkan diri” ke bumi setelah beberapa lamanya berkeliling dari asteroid ke asteroid. Bersama selama beberapa hari, sang pilot banyak belajar dari pangeran kecil tentang ketulusan hati dan hal-hal lain yang sering dilupakan seiring manusia bertambah dewasa. 

Jujur, imajinasi dalam buku ini memang agak abstrak. Ada beberapa yang harus dibaca berulang kali untuk dapat dipahami. Tapi sesungguhnya, buku ini adalah buku yang bagus untuk dibaca oleh orang-orang dewasa. Ada banyak hal yang dapat direnungkan dari sini. Salah satunya adalah kita sebagai orang dewasa seringkali menilai sesuatu/ seseorang dari apa yang tampak di luarnya. Kita juga seringkali tidak tahu apa yang kita cari dalam hidup ini. Semua itu karena kita melihat dengan mata kita, tapi lupa melihat dengan hati. Padahal dalam hidup ini, banyak hal penting yang hanya dapat kita mengerti jika kita menggunakan hati kita. 

Lastly, I know that translating a book from one language to another language is not an easy job and every translator has his/her own style. Buku yang saya beli ini adalah buku terjemahan yang terbit pertama kali tahun 2011. Sebelumnya, buku ini pernah diterjemahkan oleh penerjemah yang berbeda pada tahun 1979, namun saya belum pernah membacanya. Saya malah pernah baca buku ini dalam bahasa Inggris dan lebih sreg dengan diksi yang digunakan daripada yang versi Indonesia ini. No offense dan nggak sok keminggris, tapi saya merasa buku versi bahasa Indonesia ini bahasanya agak terlalu kaku, kurang ‘mengalir’. Bukan sesuatu yang jelek, cuma pembaca jadinya harus agak mikir dulu untuk dapat mencerna kata-katanya (padahal jalan ceritanya sendiri juga perlu dicerna baik-baik — dobel mikir jadinya :D). Tapi saya maklum saja, namanya juga terjemahan, pasti banyak pakemnya. Diubah menjadi lebih ‘mengalir’ tapi nggak dapat esensinya juga jadi nggak bagus sih. Hmm, serba salah memang. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s