CdR Final Review

Akhirnya tamat juga, dengan ending yang super sekali. Super kentang. All hail potato. +_+

Why me?

Okay, marilah kita mulai final review ini dengan menghela nafas. Inhale.. exhale.. inhale.. exhale.. Calm down, calm down. Harap bersabar, ini ujian. 

Awalnya dulu saya kira series ini macam sinetron kebanyakan, yang lanjut atau nggaknya dipengaruhi oleh rating semata. Jika rating bagus, lanjut terus sampai ratusan atau ribuan episode. Dan sebaliknya, jika rating kurang, langsung cut saja tanpa woro-woro. Ternyata saya salah. Waktu ceki-ceki ignya mbak scriptwriter, beliau bilang di salah satu komentar bahwa drama ini dari awal sudah ditentukan jumlah episodenya. 

Well, then, that explains a lot

Saya pikir 60 episode itu (amat sangat) cukup panjang untuk membuat kesalahan. Kalau pun inti ceritanya udah jelas, mengembangkannya jadi sepanjang itu bukan sesuatu yang gampang. 

Cast Lineup

Kalo diinget jaman-jaman masih teenager dulu, ya wajar sih kalo karakternya pada masih agak labil, baperan, susah move on, dan kadang ngeributin hal-hal yang (menurut orang yang lebih tua) nggak terlalu penting. 

Tapi seperti yang saya tulis di First Impression, salah satu yang jadi masalah untuk saya adalah faktor “U”. Dengan penampilan seperti itu, saya kadang lupa bahwa di sini mereka adalah teenagers. Akhirnya jadi kesel sendiri (kenapa ceritanya gini amat?) karena dalam pikiran saya, dalam cerita ini, mereka udah umur 24++. Sorry, po. (^o^;)

Sedikit harapan saja. Walaupun banyak teenagers saat ini yang dandanannya “tua” banget, lain kali kalo emang ceritanya tentang teenagers, semoga cast-nya yang teenagers beneran. 

Akting

Overall, akting para pemainnya oke semua, natural, karena emang nggak ada adegan yang gak wajar macam zoom inzoom out dengan mata mendelik-menyipit sambil mbatin rencana jahat. Tapi no offense ya, menurut saya, Clara aktingnya masih agak kaku. Wajar sih, karena dia masih rookie. Belum pernah liat dia selain di MV Penantian Berharga. Sementara yang lain udah pernah main drama/film sebelumnya, malah ada yang udah “senior” banget, kayak Nimaz dan Cio. *Kok mereka udah gede aja sih? Kan jadi ngerasa tua*

Lano juga agak aneh sih, tapi kalo dia lebih karena pronunciation bahasa Indonesianya. Bisa dimaklumi, karena dia emang bukan asli orang Indonesia. Tapi tetep aja kadang ada intonasi atau pemenggalan kata yang terdengar aneh di telinga. 

Karakter

Dari semua karakter, favorit saya adalah bundanya Gita Chika, karena beliau yang paling wise. Dan dari semua karakter, my least favorite adalah Rizky. Makanya saya nggak paham kenapa Rizky harus jadi rebutan, karena dia nggak lebih mending daripada semua karakter cowok yang lain, termasuk Kunto.

Oh iya, di sini nggak ada karakter antagonis yang suka menindas orang lain. Penilaian jahat atau nggaknya lebih dipengaruhi oleh situasi. Semua karakternya baik, tapi pernah jadi jahat (atau lebih tepatnya ngeselin) saat situasinya nggak tepat. 

Konflik dan Alur

Entah kenapa rasanya konfliknya nggak cukup greget. Kadang juga konfliknya muter-muter pada permasalahan yang sama, contoh:

  • Gita mau bilang suka ke Rizky tapi nggak jadi-jadi. Beberapa episode selanjutnya, Rizky mau bilang suka ke Nadine tapi nggak jadi-jadi. Beberapa episode selanjutnya, Dimas mau nembak Gita tapi nggak jadi. Dan beberapa episode selanjutnya lagi, Rizky mau nembak Gita tapi nggak jadi. 
  • Nadine ngorbanin perasaan ke Rizky, dengan berpura-pura, demi Gita. Beberapa episode selanjutnya, Gita ngorbanin perasaan ke Rizky, dengan berpura-pura, demi Nadine. 
  • Some of them jadi panitia acara pagelaran seni. Nggak berapa lama kemudian, mereka jadi panitia lagi buat acara pensi. 
  • Bintang jatuh, bintang jatuh, dan bintang jatuh. Oke, skip
  • Flashback-flashback yang berulang. 
  • Adegan-adegan cheesy yang katanya bikin sebagian orang baper — tapi menurut saya nggak penting-penting amat. Adegannya mungkin beda-beda, tapi intinya sama: skinship dengan efek slow motion. Selalu bikin saya pingin melipir dan mengerjakan aktifitas lain sampe adegannya beres. 

Penyelesaian konfliknya juga kadang kurang rapi, contoh:

  • Pas bundanya Gita Chika ketipu terus disuruh ganti duit orang 20 juta, padahal ayahnya juga baru dipecat. Masalah duit 20 juta ini nggak pernah dibahas lagi setelah ayahnya diterima jadi dosen.
  • Hasil semester pendeknya Rizky bagaimana? 
  • Masalah Raisa dan mamanya tentang nilai yang harus sempurna dan pilih-pilih teman. Mereka berdamai dengan mudahnya setelah Raisa jadian sama Kunto. Padahal saya berharap mamanya bisa lebih menghargai proses daripada hasil. 

Alur, seperti yang sering saya bilang di tulisan yang lain, terlalu lambat. Selain itu, alur yang maju-mundur (banyak flashback) juga kadang agak mengganggu. Kalo saya yang bikin dramanya, mungkin 2-3 episode awal saya kasih full adegan masa anak-anak, jadi pas udah gedenya gak perlu kebanyakan flashback

Yah, tapi ya udahlah. Mungkin ini juga efek dari episode yang terlalu banyak. 

Memorable Scenes, Memorable Moments

  • Cameo dari mas Mul OK-Jek (Dodit Mul). Ini pendek tapi juara banget. Ngakak parah. Pas lihat BTS-nya, ternyata Taskya juga nggak bisa nahan ketawa. 
  • Cameo dari Yura Yunita. So sweet sih. 
  • Adegan Chika nyelametin Kunto dari jambret. I know this one is exaggerated, but that’s why it’s hilarious.
  • Gita nyanyi lagunya Raisa (Jatuh Hati). Sebenernya yang saya suka bukan scene-nya, tapi suaranya. Soothing
  • Semua adegan yang ada ayah dan atau bundanya Gita Chika kasih petuah. 
  • Gita Chika ikutan prihatin (nggak mau nyusahin, ngirit-ngirit makanan, bahkan cari side-job) waktu ayahnya dipecat. Moving banget. 
  • Gita bikinin pinata di Rumah Pohon buat Nadine setelah tahu kalo Nadine bakal ke Spain. Terus mereka pelukan sambil nangis dan berjanji untuk sahabatan selamanya. Saya ikut terharu. 

Hal-hal Nggak Penting tapi Mengganggu Pikiran

  • Rizky kecil itu left-handed, gedenya jadi right-handed
  • Bintang jatuh kok bisa terus-terusan? -_-
  • Rizky dapat E untuk matkul Kewarganegaraan. How come?! 
  • Bapaknya Radit kan bule banget. Pas ketemuan sama keluarga Nadine, ngomong bahasa Indonesianya agak kagok. Anehnya, pas di telepon dia ngomong Indonesianya lancar banget. 
  • Untuk ukuran anak DKV, mereka masih relatif stylish.
  • Ini super random sih, tapi pas adegan Rizky lepas kacamata, tiba-tiba jadi teringat Yoo Jae Suk.Edit

미안 (_ _;)

    Ending

    Beberapa hari yang lalu, @cintarahasia_net ngepos cuplikan ending (Rizky bilang kalo dia udah tau mau milih siapa). Saya inget baca komentar random yang nada-nadanya kayak gini.

    Dulu pas season 1 mas Satria juga bilang udah tau mau milih tante Hana atau tante Ren. Tapi nyatanya, KC malah sekarang mau ada season 3. 

    And look what we’ve got here!

    Mau disebut open-ending, nggak bisa juga sih. Dibilang cliffhanger juga terlalu kentang. Mau disuruh tebak-tebak sendiri? Kalo dari kata-katanya, implisit kalo dia milih Gita. Pertanyaannya, emange Gita pasti mau? Pede amat. xD

    Now what? Mau bikin season 2? Lah rahasianya juga udah kebongkar semua. Palingan ganti judul kalo mau mah. Cast dan karakternya tetep juga gapapa kalo gitu, tapi setting-nya udah beberapa tahun kemudian dan konfliknya lebih serius. 

    Ah, tapi da aku mah apa atuh. :3

    Penutup

    Sebenernya drama ini jauh lebih mending daripada drama-drama lain di TV sebelah. Setidaknya, di sini masih ada nilai-nilai baik yang bisa diambil, seperti saling menyayangi antar anggota keluarga, menghormati orang yang lebih tua (ortu, dosen, dll), saling membantu sesama teman, peduli dengan orang-orang di sekitar kita, dan banyak lagi. If only drama ini dibikin lebih pendek, mungkin eksekusinya bisa lebih cantik. Nggak usah ada konflik yang sebenernya nggak perlu. Nggak usah membuat masalah sampai berlarut-larut — yang sering bikin excitement berkurang jauh. Nggak usah mengulang-ulang masalah yang sama, walaupun dengan pelaku yang berbeda.  


    – EXTENDED –

    Withdrawal Syndrome?

    Nggak sama sekali, apalagi dengan ending yang kayak gitu. Beberapa episode terakhir malah saya nontonnya ngerapel di UseeTV. Efek nonton 김과장 (Chief Kim/ Good Manager)  kayaknya. Berasa males nonton drama yang terlalu menitikberatkan pada romance. Kebetulan banget, Got To Believe juga udah ditamatin. Baguslah.

    Terus habis ini mau nonton apa? 

    Sepertinya pingin cari drama-drama seputar permasalahan di kantor, atau mungkin yang detektif-detektifan. Entahlah. 

    Oh wait, ini sudah bulan Mei. Apa yang bagus dari bulan Mei? Drama baru Dong Gu oppa! (≧▽≦)

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s