Meluruskan Makna Idul Fitri

Saya sudah cerita bahwa yang bertugas untuk memberikan ceramah di masjid (tempat saya tarawih tadi malam) adalah salah satu panitia zakat. Jadi, selain memberikan ceramah yang isinya sudah saya tuliskan pada tulisan sebelumnya, beliau juga kembali mengingatkan para jamaah untuk membayar zakat. Lebih spesifiknya zakat fitrah. 

Berbicara tentang zakat fitrah, saya jadi teringat perkataan Ustadz guru saya Bahasa Arab di Masjid Salman ITB. Beliau berkata bahwa seharusnya kita jangan menyebut “zakat fitrah”, tapi sebutlah dengan “zakat fitri”. Hal ini karena hari raya yang kita peringati adalah “Idul Fitri”, bukan “Idul Fitrah”. 

زكاۃ الفطر (zakatul fithr) — Source: العربية بين يديك

Pembahasan beliau kemudian merembet ke bahasan “Idul Fitri” yang seringkali dimaknai secara kurang tepat oleh banyak orang. Ya, sering kita dengar bahwa Idul Fitri artinya adalah “kembali ke fitrah”, padahal jika ditinjau dari kaidah bahasa, sebenarnya hal ini kurang tepat. Di mana kurang tepatnya? Mari kita bahas dahulu secara kata per kata. 

Idul Fitri (عيدالفطر) terdiri atas 2 kata, yaitu ‘ied (عيد) dan al-fithri (الفطر). 

Kata عيد berasal dari kata ‘aada (عاد) yang pada dasarnya bermakna “kembali”. Kata عيد umum diartikan sebagai “hari raya” karena hari raya adalah sesuatu yang selalu kita rayakan kembali (secara berulang) pada waktu yang sama setiap tahunnya. 

Berikutnya kata الفطر. Kata ini bukan berasal dari kata fithrotun (فطرۃ) yang berarti “fitrah”, melainkan berasal dari kata fathoro/ fathur (فطر) yang artinya “makan pagi/ sarapan”. Banyak juga yang menyebutkan bahwa الفطر diturunkan dari kata ifthor (افطر) yang artinya “berbuka puasa”. Intinya sama saja. Idul fitri adalah “hari raya makan pagi” (hari raya di mana kita disunnahkan untuk memulai dengan dengan makan pagi, sebagai penanda bahwa kita tidak berpuasa lagi) atau “hari raya berbuka puasa” (hari raya di mana kita berbuka/ tidak lagi berpuasa). 

Oh iya, berhubung kata ‘ied sendiri sudah berarti “hari raya” maka kita tidak perlu lagi mengatakan “Selamat Hari Raya Idul Fitri”, karena nanti jadi dobel (selamat hari raya hari raya xD). Kita cukup menyebutkan “Selamat Idul Fitri” saja. 

Menurut saya, hal-hal sederhana macam ini seharusnya dapat menjadi motivasi bagi kita untuk lebih banyak belajar Bahasa Arab. Bukan apa-apa, kita pasti sudah sadar bahwa bahasa native kita bukan bahasa Arab (walaupun banyak kosakata yang merupakan serapan dari bahasa Arab). Jadi, ada baiknya jika kita mencoba lebih memahami Bahasa Arab agar tidak terjebak pada kesalahpahaman dan atau perdebatan akibat terlalu terpaku pada terjemahan yang ada.  

 Wallahu a’lam bishshowab. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s