CdR Final Review

Fiuh, posting juga akhirnya. Harusnya tulisan ini dikeluarin bulan lalu, tapi karena satu dan lain hal, baru bisa publish hari ini. Maapkeun. (>ω<)

Cinta dan Rahasia tamat dengan ending yang bittersweet dan nggak ada season 3. Ending oke, walaupun saya memilih untuk skip beberapa episode menuju ending. Why? Keep reading!

Disclaimer: Seperti biasa, tulisan ini super duper subjektif dan mengandung saran tentang cinta dari emak-emak *halah*. Silakan diabaikan jika tidak sesuai dengan apa yang anda yakini. 

CAST LINEUP

No comment. Main characters, side characters, cameos, semua udah oke. 

AKTING 

Sebenernya sih natural aja semuanya. Hanya ada satu hal yang mengganjal. 

Kata penulis cerita, Rizky nganggep Gita lebih sebagai saudara, bukan bener-bener suka sebagai lawan jenis. Tapi yang saya tangkap justru sebaliknya. And it’s not only me. Dari baca-baca beberapa komentar di ig, juga ngobrol dengan beberapa orang, banyak juga yang mikir kayak saya, dan itu bukan karena kita tim ini atau tim itu. Kesimpulan sementara saya, sepertinya ada yang miss dalam eksekusinya. Entah mas Ta aktingnya gak pas atau arahan sutradaranya yang gak pas. 

Sebenarnya oke aja kalo mau dibikin misleading. Masalahnya, ini bukan novel. Seandainya ini novel, lebih gampang bikin sesuatu yang misleading. Kita gak harus liat ekspresinya Rizky, jadi sangat mungkin kita terjebak pada pemikiran sendiri. Tapi drama adalah sesuatu yang bisa kita indera secara visual. Ada little details yang kalo kurang digarap bisa bikin logikanya jadi agak flaw

Tapi apalah saya ini. Hanya penonton. Hahahaha. 

KONFLIK DAN ALUR

Selama nonton ini, saya hampir tiap hari baca-baca komen di ig dan dari awal banyak yang bilang season ini ngebosenin. Tapi bagi saya, dibandingkan season 1, season 2 ini lebih berwarna dan seru. Hanya saja memang message baiknya lebih banyak di season kemarin.

Beberapa kali, ceritanya bikin saya merasa gak nyaman.

Waktu banyak yang gak nyaman dengan kehadiran Zeta, saya pun gak nyaman. Tapi ini adalah rasa gak nyaman yang seru.  Penasaran sekaligus sebel sama Zeta. Saya rasa, memang penulis sendiri pingin bikin efek kayak gini. 

Waktu rekaman percakapan Nadine dan Dimas bocor di radio kampus, saya juga gak nyaman. Waktu itu coupling-nya kayak udah fix, tapi tiba-tiba mau diobrak-abrik lagi. Saya gak nyaman karena kasian sama Nino. *Nino lagi, wkwkwkwk*

Di beberapa episode sebelum minggu terakhir, perubahan sikap Dimas bikin saya gak nyaman. Ada perasaan aneh ketika melihat Dimas jadi cengeng dan desperate, gak kayak Dimas yang dulu selalu wise dan cool. Seakan ingin berteriak, “Kembalikan Dimas yang dulu!” Untungnya dia bisa balik lagi kayak dulu. 

Waktu Gita mulai pingin menyatukan Rizky dan Nadine, di sinilah ketidaknyamanan terbesar saya bermula. This is getting serious. Waktu Dimas mulai bantuin Gita dan Rizky bergerak untuk deketin Nadine I stopped watching dan hanya memantau dari ig. Mau nonton lagi tapi ternyata ada adegan Nadine yang lebih mentingin Rizky daripada Nino, jadi males. Ini bukan lagi tentang ekspektasi yang tidak sesuai, tapi lebih ke masalah yang lebih mendasar, which isvalue yang saya anut.  Selengkapnya, baca di poin satu “Petuah Cinta Dari Mbak Wenk” (scroll ke bawah).

ENDING

Nice ending. Neat, walaupun bittersweet. Bagian tebak-tebakan jodohnya semacam reply series banget sih. I like it, tho. :D

Sedikit nyesek karena Dimas akhirnya harus mati. Tapi di sisi lain, bener kata mbak Dewi. Impact-nya gak bakal se-powerful itu kalo Dimas gak mati. 

Sempet baca beberapa komentar di ig yang bilang kalo mereka nangis sampe parah banget. Saya sih enggak. Waktu nonton emang nangis, setelahnya emang nyesek, tapi semuanya hilang ketika saya makan malam dengan soto. Saya kan jadi mikir, ini nyesek apa laper. Wkwkwk. 

Kalo penulisnya yang nangis parah, saya rasa masih wajar. Banyak penulis lain yang juga kayak gitu. Saya pernah baca, even JK Rowling nangis waktu dia harus mematikan salah satu karakter di Harry Potter, sampe suaminya nenangin sambil bilang, “You don’t have to kill him.” 

Tapi buat saya yang hanya sebagai penonton, it’s just a story sih. Yang meninggal hanya sebuah karakter imajiner, bukan real person. Jadi saya gak nangis sampe segitunya. Beda kasus waktu Gutaengi hyung ahjussi, Kim Joo Hyuk yang meninggal. He’s a real person, a kind person, jadi kerasa wajar kalo banyak yang griefing karena meninggalnya yang mendadak, termasuk saya. Huhuhu. 

PENUTUP

Alhamdulillah tamat juga dan gak ada season 3. Jumlah episodenya juga lebih sedikit, jadi meminimalkan kemungkinan ceritanya jadi draggy

Saya sempat membaca beberapa komentar dari penonton yang menganggap bahwa orang-orang yang tidak sepakat dengan alur cerita adalah orang-orang yang tidak menghargai penulis cerita. Halo, di sini saya tegaskan, saya bukan tidak menghargai penulis atau tim kreatif drama ini. Saya mengapresiasi seluruh tim CdR karena memang tidak mudah untuk membuat alur cerita yang menarik. Namun saya juga meyakini bahwa kita semua tidak harus sepemikiran. 

Kita datang dari latar belakang keluarga yang berbeda, mengalami kejadian-kejadian berbeda, membaca buku-buku yang berbeda, menonton film-film yang berbeda, bergaul dengan orang-orang yang berbeda, dan hal-hal lain yang akhirnya membuat satu orang dan orang lain dapat memiliki persepsi yang berbeda dalam memandang sesuatu. Namun tidak sepemikiran bukan berarti harus bermusuhan, kan? ;)

Anyway, terlepas dari hal-hal yang kurang saya setujui, overall, it’s a nice ride. Terima kasih untuk drama yang cantik ini. ❤

Read also: CdR dan Hal-Hal yang Menggemaskan 

Saran ke depannya (kalo ada tim kreatif yang baca, hahahaha), bisa gak sih, NET menayangkan drama yang gak bikin penontonnya saling ribut karena tim shipper masing-masing? Berharap ada drama sejenis “Dear My Friends”, yang main characters-nya emang orang-orang tua dan bapernya bukan karena cinta antar lawan jenis, tapi lebih karena inget sama orang tua sendiri. 


BONUS: PETUAH CINTA DARI MBAK WENK

#1. Tentang Intervensi

Rizky akhirnya sama Nadine. Saya oke saja jika mereka dipasangkan, tapi saya tidak oke dengan jalan menuju penyatuan mereka. 

Apapun alasan Rizky pernah memilih Gita, Nadine pernah memilih Nino, dan Dimas pernah memilih Gadis, itu semua bukan hal yang utama. Mereka menjalin hubungan atas kesepakatan bersama. Apapun alasan awalnya, mereka sudah memilih dan setiap pilihan memiliki konsekuensi. 

Apa yang saya yakini adalah ketika kita sedang menjalin hubungan dengan seseorang, jangan pernah membuka celah untuk orang lain masuk dan mengacaukan hubungan itu. 

Saya tahu, perasaan tidak bisa dipaksakan. Tapi sepemahaman saya, perasaan dan komitmen adalah dua hal yang berbeda. Jika kita memilih untuk bersama dengan seseorang, jangan memupuk perasaan cinta untuk orang lain. Namun jika kita tidak sanggup untuk itu, ya jangan menjalin hubungan. Tidak semua pernyataan cinta harus diterima dan tidak selamanya move on itu berarti bahwa kita harus memiliki pasangan baru.

Saya masih beranggapan bahwa aksi Gita dan Dimas untuk “menyadarkan” Rizky tentang perasaannya ke Nadine adalah sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Kalaupun akhirnya Rizky menyadari perasaannya, tidak ada yang berhak memaksa dia untuk berjuang. Pilihan berjuang atau menyerah adalah hak masing-masing individu.  

Jika Nadine tidak berjodoh dengan Nino, mereka pasti akan putus juga. Dengan alasan apapun, intervensi yang dilakukan Gita, Dimas, dan Rizky adalah hal yang tidak terpuji. Terkecuali dengan alasan misalnya Nino adalah anggota sekte pemuja setan yang berusaha menjadikan Nadine sebagai tumbal, atau Nino tercyduk waktu ada razia waria, atau alasan urgent lain. Alasan “dia harus tau perasaan kamu” tidak se-urgent itu. 

Oke, saya tahu ini cuma drama dan drama butuh konflik. Jadi teringat AADC2. Katanya, Cinta sengaja dibikin sudah tunangan dengan alasan yang simpel. Kalo Cinta jomblo, tidak ada konfliknya. Lempeng. Sementara kalo Cinta sudah married, masalahnya bisa terlalu serius. So, Cinta tunangan adalah skenario yang paling ‘aman’ untuk memasukkan intervensi dari Rangga. 

Tapi ya, khususnya adik-adik yang masih jomblo, tolong filter lagi antara hal yang boleh ditiru dan hal yang cuma bisa jadi hiburan. Jika hal-hal seperti ini terjadi di dunia nyata, ingat-ingat ini ya: jangan jadi perusak hubungan orang.

#2. Tentang Sifat Childish

Rizky childish. Sejujurnya, kata “childish” ini pernah menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan di masa lalu saya. Tidak perlu diceritakan bagaimana kisah lengkapnya, intinya pernah ada (lebih dari satu orang) yang mengatakan bahwa saya childish. Dulu, memang sakit sekali rasanya. Tapi setelah hampir sepuluh tahun berlalu, saya pikir memang benar bahwa dulu saya kelewat childish. Alay pula. Andai ada mesin waktu, pingin deh nampol diriku di masa lalu. Hahahaha. b-(

Jadi intinya gini. Jika kalian punya teman seperti Rizky, tolong dibimbing ke jalan yang benar agar dia mampu terbebas dari kehaluan. Naturally, kita pasti ingin berproses menjadi lebih baik, tapi kadang emang harus ada orang yang mengingatkan kesalahan kita agar kita bisa memperbaiki diri. 

#3. Tentang Yang Tertinggal 

Saya tahu, Nino (dan Gadis) cuma side character yang terbuang. Mungkin perasaan dia tidak lebih penting daripada perasaan main characters. Tapi seandainya ada kalian (atau orang-orang terdekat kalian) yang pernah atau sedang mengalami ada di posisi Nino, saran saya cuma satu: bersabar. 

Tidak aja hujan yang tidak berhenti. Tidak ada malam yang selalu gelap tanpa munculnya fajar. Tidak apa-apa sakit sekarang, itu namanya “pain of growing up“. Suatu hari, di saat yang tepat, kalian (atau orang-orang terdekat kalian) akan dipertemukan dengan seseorang yang tepat juga. 

#4. Tentang Mengigau

Di drama ini dikatakan bahwa jika kita menyebut nama seseorang dalam tidur, itu artinya kita cinta sama orang itu. Plot-wise, this is sweet. Tapi dalam dunia nyata, tidak ada bukti ilmiah tentang hal itu. Dari hasil membaca beberapa artikel tentang sleep-talking, semua mengatakan bahwa apa yang kita ucapkan selama sleep-talking itu meaningless. Perkataan itu bukan “jendela” untuk melihat apa yang ada dalam hatinya. So, kalo ada orang yang mengigau nyebut-nyebut nama kamu, pesan saya cuma satu: OJO BAPER

2 respons untuk ‘CdR Final Review

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s