My Impressions: Ayat-Ayat Cinta 2

Oh my goodness, akhirnya nonton film ini juga setelah baca resensi positif, negatif, bahkan yang penuh spoiler. Hahaha. Ada yang bilang, nggak asik nonton film kalo udah ada yang kasih spoiler. Well, elemen surprise-nya memang jadi berkurang ya, tapi tetap saja, ada bagian-bagian yang nggak ter-cover dalam spoiler. Juga tetap saja ada kesan yang berbeda antara baca spoiler dengan menonton langsung. 

Disclaimer: Ini bukan resensi, ini hanya impresi. Feel 100% free to disagree. Jika ingin membaca resensi, bisa cari di tempat lain, tidak di sini. 

no pic = hoax

Jadi, bagaimana kesan saya setelah nonton langsung?

Sinematografinya oke banget, memanjakan mata lah. Musik, sfx, dan OST juga oke. Untuk yang teknis-teknis gini oke lah ya. Film ini juga cukup “aman” ditonton oleh muda mudi karena minim skinship

But what I dislike the most about romance dramas and or movies are: the cheesy parts. Hrrrrr.. tapi gara-gara nontonnya di bioskop, diapit oleh dua couple di kanan dan kiri, saya jadi terharu sekali. Bukan terharu karena jadi kayak jones (wkwkwk), toh pada kenyataannya saya cuma emak-emak yang lagi me time saat anak sekolah dan suami kerja. Saya terharu karena nggak bisa mengekspresikan rasa frustasi saya secara maksimal pada adegan-adegan yang cheesy. T-T 

Kabar baiknya, film ini bukan film yang cheesy dari awal sampai akhir banget. It’s good, mostly in the first half of the movie. Terlepas dari kelakuan Fahri yang membuat saya merasa bahwa dia memiliki jiwa seperti seorang nenek tua (suka rempong sendiri bantuin orang lain–which is actually good, but to some extent, it feels too much), dialognya Fahri ini penuh dengan kata-kata yang bagus. Dialog yang paling famous mungkin sudah sering kita dengar, 

“Pancasila itu di sini (di hati). Bhinneka Tunggal Ika itu di mana-mana.”

Satu lagi yang saya ingat,

“Tidak ada yang lebih pantas dicintai daripada cinta itu sendiri. Tidak ada yang lebih pantas dibenci daripada kebencian itu sendiri.”

Salah satu bagian yang bikin saya terharu adalah ketika Fahri baikan sama Jason (tetangga depan rumah). Eh, bukan baikan ding. Fahri mah baik terus, Jason aja yang akhirnya mau berhenti marah ke Fahri. 

Sebenarnya ada satu adegan lagi yang lumayan bikin baper, tapi IMO, kebaperan itu gara-gara lagunya Rossa. Adegan apa itu? Rahasssiaaaa. xP 

Lagunya macam cinta bertepuk sebelah tangan banget ya? Padahal mah konteks ceritanya di sini rada bikin kzl. xD

Adegan-adegan lain ya.. so-so lah. Malah sebenarnya banyak adegan yang bikin saya bingung harus bereaksi seperti apa. Harusnya touching atau mungkin menegangkan, tapi saya malah ngikik sendiri saking cheesy-nya, atau saking nonsense-nya, atau saking irrelevant-nya. Okeh, tanpa berniat memberikan spoiler, berikut ini bagian-bagian yang sedikit membingungkan tersebut.

#1. Fahri tidak mengenali istrinya sendiri hanya karena mukanya rusak sebelah (ditutupin cadar) dan mengaku sebagai seseorang yang bukan bernama Aisha. Saya sudah tahu ini setelah baca spoiler-nya, walaupun tanpa baca spoiler juga udah ketebak banget. Ini mengingatkan saya pada film Rab Ne Bana Di Jodi, di mana Taani tidak tahu bahwa Raj adalah Surinder, suaminya sendiri, hanya karena Surinder lepas kacamata dan cukur kumis. My current conclusion is, if you survived watching Rab Ne Bana Di Jodi without being frustrated, Ayat-Ayat Cinta 2 is not a big deal. :p

#2. Saya kira semua orang juga sudah tahu bahwa mbak Dewi dan dik Tatjana adalah bintang iklan salah satu produk kecantikan. Tapi tetap saja, ada rasa ‘meh’ ketika melihat merk produk itu terpampang nyata di film, walaupun cuma sekian detik. 

#3. Ada adegan yang rada ridiculous, baik secara ide maupun eksekusinya, yaitu adegan bakar jari di atas kompor. Even watching it is frustrating. x(

#4. Ada adegan Aisha ketahuan identitasnya oleh nenek Catharina. Aisha akhirnya mengakuinya dan beralasan bahwa dia tidak ingin memberi tahu Fahri karena ingin melihat Fahri bahagia. Dia takut menjadi beban bagi Fahri. Hmm. Harusnya mungkin penonton baper ya, but in my ears, it sounds like a lame excuse. 

#5. Ada adegan Fahri harus pindah dari Edinburgh ke Oxford. Terus mahasiswanya pada nganterin sambil dadah-dadah. Nggg, nggak sekalian nyanyi aja gitu? Macam ni. 

#6. Nggak ada angin, nggak ada hujan, ujug-ujug penjahat dari AAC1 datang di akhir-akhir. Wow, saya tercengang. Even if a character should be killed, I don’t think it should be related to some random old villain. Selain itu, apakah mencari orang di Inggris itu segampang cara yang dipraktekkan pada film Kabhi Khushi Kabhie Gham

#7. Adegan oplas, face-off, or whatever you name it di akhir seharusnya nggak perlu ada. Kalaupun harus ada, nggak usahlah diliatin prosedurnya. Jadi inget nonton drakor Ghost Phantom, di mana mukanya Daniel Choi yang udah rusak dioplas jadi mukanya So Ji Sub (walaupun tidak dengan prosedur yang sama dengan yang digunakan di film ini). Even walaupun itu di Korea yang sudah terkenal ‘wow’ dalam hal oplas, tetep aja saya nontonnya berasa agak ‘meh’. Nah, film ini apa lagi? -_-

#8. Satu hal yang mungkin kelihatan agak sepele. Ketika Hulya makan sambil berdiri, kenapa Fahri yang religius itu tidak menegur, “Wahai Hulya, makan itu sambil duduk!” Dan beberapa scene selanjutnya, Fahri juga makan sambil berdiri, walaupun cuma icip-icip. Ah elah. -_-

.

Kesimpulannya, saya juga bingung ini film bagus atau nggak. Kalau dibilang dalam film ini ada banyak pengajaran, ya memang benar. Ada pengajaran baik yang bisa diamalkan, ada juga pengajaran buruk yang tidak patut ditiru. Well, IMO, it could’ve been better jika tidak terlalu fokus pada cinta-cintaannya Fahri (atuhlah ganti judulnya jadi Cinta Fahri xP). Tapi gimana dong, da ini kan film romance? Hmmm.. susah juga ya. Ya tapi kalau perlakuan orang-orang lain (esp. para cewek) ke Fahri nggak terlalu exaggerated, mungkin film bisa jadi sedikit lebih make sense.  *masih ngeyel wkwkwk*

Ya udah, gitu aja lah impresi saya tentang film Ayat-Ayat Cinta 2. Kentang? Biarin. :p 

Selamat menonton jika ingin menonton, tapi tidak apa-apa juga jika tidak ingin menonton. Next, sepertinya saya harus baca novelnya. Some says, it’s waaaay better than the movie. 


Random Thing: Bule-bule yang bikin salfok

Pertama, di minimarket. Saya agak mikir pas ada bule yang ngomong Indonesianya lancar banget. Setelah diperhatikan, ealah.. coach Timo. Dadi bintang film saiki yo. xD 

Kedua, waktu di acara debat, ada satu orang yang nggak ada dialognya tapi beberapa kali di-shoot dan wajahnya serasa familiar. Sempet mbatin, Ini Mr. Eku bukan sih? Saya pun meluncur ke Instagramnya dan ternyata benar itu beliau. Baru ingat sepertinya long-long time ago udah pernah lihat post beliau tentang shooting film itu. 

Satu respons untuk “My Impressions: Ayat-Ayat Cinta 2

  1. Ping-balik: My Impressions: Si Juki The Movie | Rumput Jingga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s