Irrational Demands

Meracau tengah malam. Tapi gimana dong, kepingin nulis ini sebelum lupa. -_-

Singkat cerita, entah kenapa jadi kepikiran setelah baca posnya mbak Dewi (Pramita) di Instagram kemarin. 

View this post on Instagram

😔😔😔😔😔 . Sesuatu yang terlalu dipaksakan hasilnya tidak akan bisa bagus. . Well ini kenapa gue teriak2 terus di sosmed, karena permintaan netizen itu dibaca oleh pihak TV dan pihak TV akan mempush kami para kreator. Jadi semakin sedikit kalian komentar minta tambah jam tayang, itu akan semakin baik buat kami. . FYI, co writer saya sudah 4 orang dan mereka itu co writer yang sama dengan yang mengerjakan KC & CDR. Dulu mereka sanggup membantu saya, membuat alur KC & CDR. . Tapi sekarang, tidak ada yang sanggup dengan CHA ini karena ceritanya yang super2 complicated, multiplot dan multi karakter. Saya harus berjuang sendirian untuk ngeplot alur cerita. Jadi tolonglah, bantu saya untuk tidak komen tambah jam tayang.

A post shared by Dewi Pramita (@dewieyen) on

To be honest, saya juga nggak ngikutin CHA, hanya sesekali nonton cuplikannya di beberapa akun Instagram (esp. akunnya mbak Dewi). Sempat mencoba nonton di TV tapi agak kurang sreg karena talent-nya masih banyak yang aktingnya kaku. Bukan berarti ceritanya jelek, toh faktanya banyak yang suka. Mungkin saya saja yang kurang cocok. 

Oke, kembali ke pembahasan utama. Dulu waktu CdR, saya juga sering mengeluhkan alur yang lambat, cerita yang nggak ke mana-mana, dan lain sebagainya. Di Instagram juga banyak yang komplainnya lebih maksa. But guess what? They were sticking to their original plan. Jumlah episode sudah jelas, plot jelas, ending-nya juga jelas, tinggal meramu apa yang terjadi di antaranya. Masukan didengarkan, tapi itu tidak membuat mereka jadi “disetir” oleh netizen

Tapi beda stasiun TV, beda juga cara kerjanya. Reputasi stasiun TV tempat CHA ditayangkan memang agak-agak … ya gitu deh. Jika rating tinggi, jumlah episode akan ditambah. Jika sebaliknya, tayangan akan di-cut dengan semena-mena. Dan membaca pos mbak Dewi di atas membuat saya merasa stasiun TV ini terlalu menyeramkan. Mendengarkan netizen itu boleh saja, bagus malah. Tapi jika sebuah tayangan terlalu diintervensi oleh apa kata netizen, tayangan itu bisa kehilangan idealismenya. Esensi cerita bisa berubah, dan menurut saya, itu tidak bagus. 

Sama halnya dengan klien yang memesan sebuah perangkat lunak dengan spesifikasi yang tidak biasa. Klien tidak mau tahu bagaimana developer membuatnya. Yang jelas, pingin A ya harus jadi A. Masih untung kalau si klien nggak ngomong, “gini doang kan gampang!” Sementara itu, si bosnya developer juga menutup mata. Developer jumpalitan mengerjakan project juga biarin. Yang penting dapat klien, dapat duit. 

Sadly, these kind of things are not a part of a drama. Kenyataannya memang banyak yang seperti itu. Banyak orang yang menuntut orang lain namun tidak menyadari bahwa tuntutan mereka kurang atau tidak rasional. 

Mungkin ada baiknya jika kita mendengarkan petuah bijak berikut ini.

Jangan terlalu lama berada di awang-awang. Nanti kamu lupa bagaimana rasanya berpijak di bumi. 

Saya juga lupa ini kata-katanya siapa. Entah Bapak, Ibu, atau orang lain. Yang jelas, saya mendengar ini sekitar 8 tahun yang lalu dan masih ingat sampai sekarang. Why? Because I was there. I was so frustrated because of those kind of things. And I left when I thought I’ve had enough. 

Jadi, marilah kita belajar mengasah empati. Belajar untuk tidak asal menuntut tanpa mau tahu bagaimana kondisi di lapangan. Sulit memang, tapi tidak ada pilihan lain selain terus belajar dan berlatih. 

Semoga kita tidak menjadi orang yang terlalu banyak menuntut hal-hal yang irasional pada orang lain. Aamiin.  

#selfreflection

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s