Hello, April!

Bulan lalu, akhirnya saya berhasil menjalankan misi untuk membatasi ikut lomba dan antologi, walaupun terpaksa. Hahaha. Di awal, saya berniat ikut tiga lomba (satu event Divapress dan dua sisanya dari teman-teman di AWI) tapi ternyata kendalanya banyak.

Pertama, ada teman yang minta tolong saya ngedit buku solonya setebal dua ratus halaman A5. Kegiatan ini cukup memakan waktu, karena—seperti biasa—saya harus baca dan ngecek berkali-kali.

Kedua, penggemar Fatih regional Jawa Timur pada kangen. Karena itu, kami—saya dan Fatih doang, bapaknya kerja—pun pulang kampung. Kebetulan orang tua juga ngajakin ke Bali. As predicted, selama liburan yang hampir dua minggu ini, lumayan susah cari momen untuk bisa konsentrasi nulis.

Ketiga, HP saya rusak. Imbasnya, nggak bisa bikin draf di HP. Terpaksa langsung ketik-ketik di laptop. Kurang fleksibel untuk pindah tempat. Susah fokus juga, soalnya sambil jagain Fatih.

Alhamdulillahnya, masih bisa jadi (dan keburu ngirim) satu tulisan untuk lombanya Divapress. Dua sisanya nggak keburu. Huhuhu.

But hey, itu bulan lalu. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Mari kita mulai bulan April ini dengan semangat baru. As for me, bulan ini dimulai dengan … ketemu idola. Yang mana?

Ehm, sebentar.

MakSur

Mak Suri (smirk)(smirk)

Tunggu, gimana ceritanya Mbak Wenk bisa ketemu Mak Suri?

Hehehe. I did say that I was a bit greedy in February, right? Saya kirim lima tulisan (tiga fiksi dan dua nonfiksi) untuk lomba dan antologi. Salah satu lomba yang saya ikuti adalah lomba cerpen bertema #ALLISWELL yang diadakan oleh Storial. Agak ekspres sih bikinnya, karena baru dapat info kurang dari seminggu sebelum deadline.

Dari event ini, diambil enam puluh orang yang berkesempatan untuk ikut workshop bersama Dee Lestari. Saya cukup optimis bisa terpilih, karena kuotanya lumayan banyak. Selain itu, dibandingkan beberapa karya peserta lain, tulisan saya punya satu keunggulan: typo free. Apalah lagi yang bisa dibanggakan selain ini? xD

Hari pengumuman pun tiba. Pas baca pertama kali, saya cuma bisa melongo dan merinding sendiri karena tulisan saya ada di nomor … satu.

Satu.

I was like … Really? Was it really that good?

But then I don’t care about that. Intinya bisa ikutan workshop-nya Mak Suri. Ahey! Alhamdulillah.

Anyway, you can read the story here and let me know what you think about that. :)

Terus gimana acara workshop-nya?

Kece parah. Materinya oke dan Mak Suri bawainnya seru banget. Sedikit ringkasannya bisa ditengok di akun Instagramnya Storial. Yang pasti, saya dapat banyak pencerahan. Selain itu, saya pun termotivasi untuk menulis dengan lebih terstruktur dan terjadwal.

Dua materi yang paling berkesan untuk saya adalah tentang penentuan deadline yang realistis dan tentang swasunting. Ternyata ya, benar kata pepatah. Gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman di seberang lautan nampak. Lebih susah edit tulisan sendiri daripada edit tulisan orang lain. Benar-benar PR banget buat saya.

.

Sebenarnya ada banyak yang bisa dibagi dari acara ini, tapi malam ini sedang kurang fokus. Mungkin lain waktu akan saya share beberapa highlight materi yang bagus dan penting untuk diketahui oleh penulis (terutama pemula). So, sekian dulu tulisan saya malam ini.

Til next time!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s