Status
0

Teringat kata Murakami-san di “What I Talk About When I Talk About Running”. Tidak semua orang bisa menulis. Menulis itu bakat-bakatan, karena cari inspirasi itu ibaratnya ambil air dari sumur. 

Kalo kamu sangat berbakat, gampang aja nulis. Sumurmu penuh air, tinggal ambil aja. 

Kalo bakatmu biasa, kamu harus menggali sumur lebih dalam untuk mendapatkan air. 

Kalo kamu gak ada bakat,  gak usah nulis, karena sumurmu itu kering! Wkwkwk. 

Simbah mah bebas lah ya. Kalo beliau berpendapat begitu ya monggo, tapi jangan jadikan itu sebagai sesuatu yang nge-down-in kalian (termasuk saya) yang masih belajar nulis. Ingat kata mbah Einstein aja. Untuk sukses, kita perlu 1% bakat dan 99% kerja keras. Even if kita gak punya yang 1% itu, masih ada 99% yang bisa diusahakan. 

Tetap semangat belajar menulis. :)

3

Kelas Menulis Online

Kelas Menulis Online (KMO) adalah sebuah komunitas belajar menulis yang umurnya masih relatif muda. Komunitas ini didirikan untuk mencetak penulis-penulis muda yang dapat memberikan warna baru di bidang literasi, khususnya di Indonesia. Dalam komunitas ini, kita dapat bertemu dengan penulis-penulis handal. Kita juga dapat saling memotivasi dan berbagi ilmu dengan teman-teman yang memiliki minat di bidang kepenulisan. Hal ini tentu sangat bermanfaat, terutama apabila kita ingin lebih serius untuk menekuni profesi sebagai penulis.

Baca lebih lanjut

0

Sederhana Tapi Sulit

Dalam bahasa Jawa, “manusia” disebut dengan “manungsa”. Manungsa sendiri kerap disebut sebagai akronim dari manunggaling rasa (kesatuan rasa). Ada banyak penafsiran tentang hal ini. Beberapa hari yang lalu, saya mendengar seorang bupati menafsirkan hal ini di salah satu acara talkshow di televisi. 

Menurutnya, manunggaling rasa itu dapat dimaknai bahwa kita harus mampu memperlakukan orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan. Jika kita ingin dihormati, hormatilah orang lain. Jika kita tidak suka didzolimi, jangan mendzolimi orang lain. Dan seterusnya. 

Sesimpel itu. Sesulit itu. 

Baca lebih lanjut

0

한글 — Bagian 3

Setelah sebelumnya saya sudah membahas tentang huruf-huruf yang digunakan dalam alfabet Korea, baik huruf vokal maupun huruf konsonan, kali ini saya akan melanjutkan pembahasan tentang suku kata. Alfabet hangeul harus dituliskan dengan mengumpulkan konsonan dan vokal agar dapat dilafalkan. Konsonan dapat ditempatkan pada posisi bunyi awal (초성) atau bunyi akhir suku kata (종성), sedangkan vokal ditempatkan pada posisi bunyi tengah (중성). 

Cara penulisan untuk menggabungkan konsonan dan vokal menjadi suku kata ada 6 cara, tergantung huruf yang digunakan. Masing-masingnya dapat dilihat sebagai berikut. 

Baca lebih lanjut

0

한글 — Bagian 2

Setelah pada tulisan sebelumnya saya sudah membahas tentang huruf vokal, pada tulisan ini, saya akan membahas tentang huruf konsonan. Dalam hangeul, huruf konsonan jumlahnya ada 19 huruf. Dari 19 huruf ini, 14 di antaranya adalah konsonan dasar dan 5 sisanya adalah konsonan ganda. 

Konsonan tidak dapat dibunyikan apabila dia berdiri sendiri. Konsonan harus bertemu dengan huruf vokal untuk membentuk suku kata agar dapat dilafalkan.  Konsonan dapat dilafalkan dengan satu atau lebih cara sesuai dengan vokal yang mengikutinya dan posisinya dalam suku kata. 

Baca lebih lanjut

0

한글 — Bagian 1

한글 (hangeul) adalah sistem alfabet dalam bahasa Korea. Sebelum hangeul diciptakan, rakyat Korea menggunakan huruf karakter Cina dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun karena huruf karakter Cina jumlahnya sangat banyak,  rumit, dan sulit dipelajari, seringkali rakyat jelata menghadapi kesulitan dalam menggunakannya. 

Pada tahun 1443 (zaman Joseon), Raja Sejong dan beberapa ilmuwan pada saat itu membuat susunan sistem alfabet Korea yang lebih mudah dipelajari. Saat diciptakan, sistem ini disebut dengan “훈민정음” (hunminjeoungeum) yang artinya “bunyi tepat untuk mengajari rakyat”.

Sama seperti sistem alfabet yang biasa kita gunakan, dalam hangeul juga ada 2 jenis huruf yaitu huruf vokal dan huruf konsonan. Dulunya, dalam hangeul ada 17 huruf konsonan dan 11 huruf vokal. Akan tetapi, yang digunakan saat ini totalnya ada 40 huruf, yang terdiri atas 19 huruf konsonan dan 21 huruf vokal.

Agar tidak terlalu panjang, pada tulisan kali ini, saya akan membahas tentang huruf vokal terlebih dahulu. Perlu diingat, semua yang saya tuliskan di sini bersumber dari buku kursusan teman saya.(;^ω^)

Baca lebih lanjut

0

Ketika Anak Marah

Ada artikel bagus yang beberapa hari yang lalu di-share oleh salah seorang teman di Facebook. Artikel ini bersumber dari Huffington Post (huffpost.com) dan berjudul “Handling the Jolting yet Universal Truth: All Children Get Angry“. Artikel asli dapat dibaca di tautan ini. Di sini, saya akan menuliskan ringkasannya, sebagai catatan untuk saya sendiri dan untuk orang-orang lain yang juga membutuhkannya.

Kemarahan anak dapat diibaratkan seperti fenomena gunung es di lautan. Kita dapat melihat puncaknya, namun kita tidak pernah tahu apa yang ada di dasarnya. Kemarahan anak adalah wujud dari perasaan-perasaan yang tidak mampu mereka katakan. Sayangnya, orang tua hanya dapat melihat kemarahan mereka. Orang tua sering tidak menyadari bahwa di balik kemarahan itu, ada perasaan anak yang sedang terluka. 

Ketika seorang anak marah, sebenarnya dia sedang mencoba untuk berkomunikasi. Dia berusaha untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang besar, hal-hal yang mereka inginkan, atau hal-hal yang tidak mereka inginkan. Dia melakukan itu untuk memohon bantuan dan respon balik dari orang tua. 

Source: Screenshot Upin Ipin Episode ‘Kembara 6 Musim’


Baca lebih lanjut

0

Beauty Products *uhuk*

Berasa nggak cewek kalo nggak pernah bahas beginian. Tapi mau bahas beginian kok yo kagok. Hahahahahahahaha. Wes mbuh wes.

Saya kadang baca beberapa beauty blog kalo lagi tertarik ingin membeli produk-produk tertentu. Harus diakui, membaca review para beauty blogger itu lumayan helpful. Setidaknya saya jadi nggak gampang beli produk tertentu yang kadang iklannya terlihat menggoda, tapi pas dipake ternyata nggak cocok. Yang jadi masalah adalah kadang membaca beauty blog itu membuat saya merasa seperti alien. Like, really.. if men were from Mars and women were from Venus, then I must be coming from a random asteroid. :v

Jika dibandingkan dengan blog ini.. Hmm, ya begitulah. Ada yang mengira blog ini punya cowok lah, ada yang komen panggil “mas” lah — gara-gara saya kebanyakan nulis tentang troubleshooting ini itu. Jadi baiklah, untuk kali ini, saya akan membahas beberapa beauty product yang saya gunakan, biar blog ini kelihatan agak girly. *girly dari Timbuktu, bu?!*

Mohon maaf kalo agak ngaco, nggak sedetail dan secanggih para beauty blogger kalo bikin review. Maklum, untuk hal ini, saya cupu. (。>﹏<。)

Sebagian besar

Baca lebih lanjut

0

Minor Changes

Di tulisan ini, saya sekedar mengabarkan bahwa ada sedikit perubahan di kategori blog ini. Sebelumnya, di blog saya ini ada 10 kategori, yaitu: Buku, Catatan Harian, Event, Film, Islam, IT, Makanan dan Minuman, Miscellaneous, Musik, serta kategori baru yaitu Places. Beberapa hari belakangan, ketika mengecek lagi, kok saya merasa kategori Miscellaneous itu terlalu ‘karet’. Padahal, Catatan Harian itu juga udah ‘karet’ banget. Selain itu, saya juga berpikir untuk menyeragamkan bahasa yang digunakan untuk nama kategori (Indonesia semua, atau Inggris semua). 

Akhirnya, setelah saya pertimbangkan lagi,  saya pun memutuskan untuk membuat sedikit perubahan.

Yang pertama adalah penyeragaman bahasa. Kalau sebelumnya campuran — ada yang Indonesia, ada yang Inggris –, sekarang nama kategorinya dalam bahasa Inggris semua. *pancene sok keminggris kon wenk, wenk.. tapi gapopo wes, suka hati kau lah :v*. Buku diganti jadi Book, Makanan dan Minuman diganti jadi Recipe. Untuk kategori IT, karena saya merasa namanya terlalu pendek, saya panjangkan jadi IT Things. Sementara itu, kategori Islam tidak berganti nama karena itu adalah nama agama dan dalam bahasa Inggris pun penyebutannya sama.

Perubahan berikutnya adalah penyederhanaan kategori. Cukup satu saja kategori yang ‘karet’. Catatan Harian dan Miscellaneous digabung jadi kategori Random Pieces. Selain itu, Film dan Musik juga digabung jadi kategori Entertainment

Perubahan yang terakhir adalah penambahan kategori baru. Ini saya lakukan karena setelah mengecek kategori Miscellaneous, ternyata banyak tulisan yang berisi informasi atau pengetahuan umum. Agak sayang kalau digabung di Random Pieces. Jadilah saya membuat kategori baru, yaitu FYI (akronim dari for your information). 

Jadi, pada akhirnya, sekarang di blog ini ada 9 kategori, yaitu: Book, Entertainment, Event, FYI, Islam, IT Things, Places, Random Pieces, dan Recipe. Buat pembaca, hal ini mungkin nggak terlalu signifikan, toh juga nggak mengubah tulisan-tulisan yang sudah ada. Ibaratnya, saya cuma mindah-mindah dan ganti nama folder. Tapi buat saya, pengelompokan yang baru ini membuat blog jadi lebih rapi. I don’t know whether it’s only on my mind. Even if it is, actually I don’t really care, because it makes me happy. :D

3

Pewarisan Golongan Darah

Gara-gara kemarin ngomongin soal serial drama di TV Indonesia (a.k.a. sinetron), saya jadi teringat sesuatu yang mungkin sering bikin penonton jadi gagal paham, yaitu tentang pewarisan golongan darah. Sering kali ada anggapan bahwa golongan darah anak harus sama dengan golongan darah orang tuanya. Kalo golongan darahnya beda, berarti mereka nggak blood-related. Kalo golongan darahnya sama, ada kemungkinan mereka blood-related, walaupun selama ini mereka menjalani kehidupan sebagai strangers. Yang paling nonsense, saya pernah nonton cuplikan sinetron yang dialognya begini: “Golongan darah dia sama kayak golongan darahku. Jangan-jangan dia anakku.”. Yakali kalo golongan darahmu sama kayak Gong Yoo, apa iya kamu bakal bilang, “Ahjussi, kurasa aku adalah anakmu”? -_-

Ngomongin soal pewarisan golongan darah berarti ngomongin lagi pelajaran Biologi. Saya bukan penggemar pelajaran yang satu itu, tapi saya ingat, saya pernah belajar materi ini. Jadi, kali ini, saya akan sedikit menuliskan tentang pewarisan golongan darah, specifically, di untuk golongan darah dengan sistem ABO.

 

Baca lebih lanjut