0

On Becoming Great Role Models

Bulan Januari lalu, saya mengikuti Kelas Jadi Buku (KJB), salah satu program dari KMO Indonesia. Serupa dengan sistem di KMO, di KJB pun peserta dimasukkan dalam satu grup besar dan satu grup kecil. Grup besar untuk berkomunikasi dengan pemateri dan keseluruhan peserta, grup kecil untuk berkoordinasi seputar presensi selama program berjalan. Setelah program berakhir, grup kecil kami memutuskan untuk membuat sebuah antologi nonfiksi bertema pendidikan … yaitu buku yang akan diulas singkat pada tulisan ini.

Blurb

Pendidikan adalah satu hal yang mutlak diperlukan untuk mengubah diri dan masyarakat ke arah yang lebih baik. Pada prosesnya, terkadang kita diharapkan pada berbagai kesulitan. Di saat yang bersamaan, kesulitan itu juga merupakan nikmat yang selalu dapat diambil hikmahnya.

Dalam buku ini, sebelas perempuan membagikan teori dan pengalaman mereka dalam bidang pendidikan. Ada yang berbagi tentang pendidikan formal di sekolah, ada pula yang bercerita tentang pengalaman mendidik anak. Ada yang berbagi kegelisahan, ada pula yang meluapkan kegembiraan dan rasa syukur. Memang masih jauh dari sempurna, namun banyak yang bisa dijadikan renungan dan pembelajaran.

So, what’s inside this book?

Seperti yang bisa dibaca di blurb, kami membagikan pengalaman, pemikiran, serta teori-teori yang pernah dipelajari. Secara garis besar, tulisan itu dikelompokkan dalam dua bab utama, yaitu Lessons to Learn dan Story of Our Lives.

Lessons to Learn menyajikan tulisan-tulisan yang lebih bersifat teoretis. Berikut ini rangkuman singkatnya.

  • Berjibaku Mendidik “Kids Zaman Now”, membahas tantangan dalam mendidik anak serta beberapa hal yang dapat dijadikan pencerahan.
  • Silabus Pendidikan Anak, membahas contoh kurikulum home-schooling yang dapat diaplikasikan oleh orangtua di rumah.
  • Bermain Sambil Belajar, membahas definisi belajar yang sering disalahartikan. Disertai beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan bersama oleh orangtua dan anak untuk belajar dengan fun.
  • Pentingnya Memulai Pendidikan Sejak Dini, membahas dasar-dasar teori tentang pendidikan dan urgensi untuk memulai pendidikan sejak dini.
  • Karakter Parenting Rasulullah, membahas tip dan trik mendidik berdasarkan cara Rasulullah mendidik anak.
  • Bencana Alam dan Anak, membahas tentang cara-cara menumbuhkan awareness anak terhadap bencana alam.
  • (Wanita Single) Bicara Parenting, membahas beberapa teori parenting yang didapatkan dari training SEFT dan mengikuti seminar parenting.
  • How To Be An Expert (In Anything), membahas beberapa tip untuk menambah keahlian dalam bidang yang diinginkan.
  • Kewajiban Menuntut Ilmu, membahas adab mencari ilmu secara umum.
  • Kesalahan-kesalahan dalam Pendidikan, membahas beberapa kesalahan yang dilakukan oleh pendidik (terutama di sekolah), baik yang disadari maupun tidak.
  • Kisah Pak Budi dan Keagungan Ilmu, membahas pelestarian adab dalam mencari ilmu, berkaca dari kasus Pak Budi (seorang guru di Sampang yang wafat dianiaya muridnya).
  • Pendidikan untuk Masyarakat yang Lebih Berbudaya, membahas pentingnya pendidikan untuk mengubah masyarakat menjadi lebih baik.

Bab Story of Our Lives berisi beberapa cerita tentang pengalaman nyata yang dapat dijadikan bahan untuk berkontemplasi. Rincian singkatnya dapat ditulisan sebagai berikut.

  • Hati yang Terlupakan, membahas hal-hal yang perlu direnungkan tentang mendidik dengan hati.
  • Me and My “Super” Students, mengisahkan pengalaman dalam menghadapi murid-murid yang bandel.
  • Sekolah Terbaik untuk Arsy, mengisahkan pengalaman mencari sekolah untuk anak.
  • Bukan Perlombaan, membahas tentang hal-hal yang perlu direnungkan ketika seseorang belajar lebih lambat dari yang lain.
  • Atmosfer Kelas Inspirasi, mengisahkan pengalaman menjadi relawan di Kelas Inspirasi.
  • Coretan Kisah Seorang Guru Muda, mengisahkan suka duka menjadi guru baru selepas lulus kuliah.

Guru adalah panutan murid. Orangtua adalah panutan anak. Apa pun profesi yang dijalani, ada waktunya kita akan menjadi panutan bagi yang lain. Konsekuensinya, kita harus senantiasa berperilaku baik dan menggunakan hati agar dapat memberikan influence yang baik pula.

Itulah mengapa kami memberi buku ini judul On Becoming Great Role Models: Mendidik Sepenuh Jiwa.

Who are the writers?

Selain saya (Ratri—in case you forget my real name xD), ada sepuluh orang lainnya, yaitu Ahris Fuadatuz Zuhroh, Indah Astutik Wulandari, Leny Puspadewi, Luri Handayani Taofik,
Nida Basyariyyah, Nur Fitri Agustin, Ratri Dwi Kayungyun, Rosita Septia Tirtani, Rosmayati, Saras Utami Mutoyo, dan Susi Sukaeni. Beberapa orang sudah pernah terlibat project antologi dan buku solo, beberapa lagi belum. But don’t worry, nggak ada tulisan yang ngasal kok.

What do people think about this book?

Personally—karena saya tukang edit sebelum kirim ke penerbit, tulisan-tulisan di buku ini pada dasarnya memang sudah bagus. Kedalaman pembahasannya memang beragam karena pendidikan dan pengalaman hidup setiap penulisnya berbeda. But sure, we have one thing in common: kami menulis dari hati. We share the same concern and we hope the world would be a better place to live.

Dalam buku ini, ada beberapa tulisan yang Islami banget (based on Quran and Haadith). But I can make sure that even if you’re not a moslem, this book would still be worth reading. Nilai-nilai yang disampaikan universal dan tidak mendiskreditkan agama dan kepercayaan di luar Islam. :)

Eh, itu kan dari penulisnya. Menurut orang-orang yang lain gimana?

“Mendidik bukan sekadar knowledge transfer. Sesungguhnya kekuatan luar biasa seorang pendidik adalah teladan dalam sikap dan kata-kata. Guru bagai cermin bagi anak-anak, penggores bayangan dalam pengalaman mereka.”

– Yossi Srianita, praktisi dan konsultan pendidikan, penulis buku Guru Keren Era Millennial

“Pendidikan dan ilmu pengetahuan merupakan hal mendasar yang wajib dipelajari oleh setiap orang. Ada perjuangan dalam meraihnya, pun ada tantangan dalam mengajarkannya. Dalam buku ini, semua terangkum apik dan lugas. Pembaca seakan dibawa mengikuti pengalaman berharga para pendidik dan mereka yang sedang terdidik.”

Dini Nuzulia Rahmah, penulis dan pembelajar

How can I get this book? How much?

Boleh pesan ke saya. ^^

Kontak saya via Instagram @knew_u, surel dwiratr@yahoo.com, atau Telegram @yoonayra.

Harga normal Rp 48.000,00. Khusus pada masa PO (sampai 23 Juni 2018), harga diskon jadi Rp 45.000,00. So, tunggu apa lagi? Pesan sekarang.

Any questions? Drop your comment below.

0

Hello, April!

Bulan lalu, akhirnya saya berhasil menjalankan misi untuk membatasi ikut lomba dan antologi, walaupun terpaksa. Hahaha. Di awal, saya berniat ikut tiga lomba (satu event Divapress dan dua sisanya dari teman-teman di AWI) tapi ternyata kendalanya banyak.

Pertama, ada teman yang minta tolong saya ngedit buku solonya setebal dua ratus halaman A5. Kegiatan ini cukup memakan waktu, karena—seperti biasa—saya harus baca dan ngecek berkali-kali.

Kedua, penggemar Fatih regional Jawa Timur pada kangen. Karena itu, kami—saya dan Fatih doang, bapaknya kerja—pun pulang kampung. Kebetulan orang tua juga ngajakin ke Bali. As predicted, selama liburan yang hampir dua minggu ini, lumayan susah cari momen untuk bisa konsentrasi nulis.

Ketiga, HP saya rusak. Imbasnya, nggak bisa bikin draf di HP. Terpaksa langsung ketik-ketik di laptop. Kurang fleksibel untuk pindah tempat. Susah fokus juga, soalnya sambil jagain Fatih.

Alhamdulillahnya, masih bisa jadi (dan keburu ngirim) satu tulisan untuk lombanya Divapress. Dua sisanya nggak keburu. Huhuhu.

But hey, itu bulan lalu. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Mari kita mulai bulan April ini dengan semangat baru. As for me, bulan ini dimulai dengan … ketemu idola. Yang mana?

Ehm, sebentar.

MakSur

Mak Suri (smirk)(smirk)

Baca lebih lanjut

0

Buku Antologi Nostalgia

Saya sedang excited menunggu datangnya buku Srikandi Gerigi (walaupun masih nunggu PO berakhir dulu) ketika kabar tentang buku ini masuk ke surel saya. Open PO antologi kelima. *_*

Nostalgia

Nostalgia

Seperti yang sudah saya singgung pada pos Tekad, bulan lalu, saya mengirimkan tulisan untuk beberapa lomba. Salah satunya adalah lomba menulis fiksi mini bertema “nostalgia” yang diadakan oleh Jejak Publisher. Deskripsinya begini.

Manusia suka sekali mengenang.

Kerap kali kita menemukan diri sendiri sedang membongkar kotak kenangan di dalam ingatan yang sudah lama tertimbun dan tidak tersentuh. Kadang kenangan-kenangan itu muncul secara tiba-tiba, namun seringnya, kita sengaja memunculkan mereka. Karena kita rindu, karena kita ingin mengingat kembali.

Nostalgia adalah kerinduan terhadap sesuatu, atau mungkin seseorang, yang kini sudah tidak lagi ada. Sesuatu yang kini letaknya jauh sekali, hingga tidak mungkin bisa kita capai lagi. Orang bilang, sesuatu akan menjadi lebih berharga ketika mereka sudah hilang dan pergi. Ketika kita bernostalgia, boleh jadi kenangan-kenangan itu terasa lebih indah ketimbang kita mengalaminya di masa silam. Atau mungkin, ada sebersit perasaan sedih menyadari kenangan-kenangan itu sudah seharusnya kita lupakan. Lantas, kenangan-kenangan seperti apa yang sering membuat manusia ingin bernostalgia?

Dalam event fiksi mini kali ini, peserta dipersilakan untuk mengeksplorasi tema nostalgia dengan sebebas-bebasnya. Mengingat-ingat kembali kenangan di masa silam, serta bermain-main dengan rindu.

Sudah siap mengenang?

Karena ini fiksi mini, panjangnya terbatas hanya 350-700 kata. Saya sendiri membuat tulisan dengan sekitar 400-an kata. Nggak terlalu panjang, nggak terlalu pendek juga. Ya sesuai dengan waktu pengerjaan yang menggunakan SKS (Sistem Kebut Semalam).

Baca lebih lanjut

1

Buku Antologi Srikandi Gerigi

F I N A L L Y !

Alhamdulillah. Saya bersyukur sekali karena akhirnya buku bersejarah ini terbit juga. T^T *menangis haru*

Sedikit flashback, setahun yang lalu, dua orang alumni ITS (Dini Nuzulia dan Adiar Ersti) menggagas sebuah proyek penulisan bertajuk Srikandi Gerigi. Tujuan proyek ini adalah mengajak perempuan-perempuan alumni ITS untuk berbagi cerita tentang perjuangan sebelum, saat, dan atau setelah kuliah di kampus perjuangan. Harapannya, para perempuan itu termotivasi untuk berkarya dan menebar manfaat melalui tulisan. 

Kenapa judulnya harus “Srikandi Gerigi”? Alasannya sederhana saja. Menggunakan kata srikandi karena penulisnya perempuan semua. Sementara itu, kata gerigi dipilih karena salah satu elemen dari logo kampus kami adalah roda mesin bergigi. 

Baca lebih lanjut

0

Buku Antologi Penantian Berharga

​Jodoh itu rumit. Proses mendapatkannya menjadi sesuatu yang terkadang penuh drama. Ada pasangan yang sudah bersama untuk waktu yang cukup lama, namun kemudian berpisah dan meninggalkan luka. Ada pula yang baru bertemu kemarin sore, namun hari ini sudah membahas resepsi. Ada pula yang masih sabar menanti, meski sudah mencoba berkali-kali namun belum juga mampu untuk menetapkan hati.

Kisah mengenai proses menunggu, mencari dan menemukan jodoh terangkai dengan apik melalui cerita-cerita pendek yang terangkum dalam buku Penantian Berharga ini. Tidak semua berakhir manis, tentu saja. Ada yang berujung tragis, namun ada pula yang ditutup dengan akhir yang romantis. Tapi apapun itu, seluruh cerita membawa kembali pada fakta bahwa jodoh adalah misteri Yang Kuasa. Kita hanya bisa berusaha, Dia-lah yang menentukan dengan siapa kisah kita akan bermuara.

Hai, kali ini saya akan memberikan sedikit informasi tentang antologi baru, walaupun bukan yang paling baru. Kemarin pas masa PO nggak sempat update blog. Huhuhu. Tapi tak apa, buku ini masih bisa dipesan kok. Harganya juga tidak terlalu jauh berbeda dengan harga PO. 

Okay, sebelum membahas harga, saya akan memberi sedikit ulasan tentang buku yang diterbitkan oleh One Peach Media ini. 

Baca lebih lanjut

2

Tekad

Pada bulan Februari, saya bertekad seperti ini,

“Maret mau puasa dulu lah, nggak ikutan lomba atau antologi dulu.”

Kemudian ketika memasuki bulan Maret, melihat sebuah pengumuman lomba, saya berpikir, 

“Duh, unyu banget sih temanya? Gapapa deh, satu ini aja.” 

Padahal ini masih tanggal 3. 

Baca lebih lanjut

0

Irrational Demands

Meracau tengah malam. Tapi gimana dong, kepingin nulis ini sebelum lupa. -_-

Singkat cerita, entah kenapa jadi kepikiran setelah baca posnya mbak Dewi (Pramita) di Instagram kemarin. 

View this post on Instagram

😔😔😔😔😔 . Sesuatu yang terlalu dipaksakan hasilnya tidak akan bisa bagus. . Well ini kenapa gue teriak2 terus di sosmed, karena permintaan netizen itu dibaca oleh pihak TV dan pihak TV akan mempush kami para kreator. Jadi semakin sedikit kalian komentar minta tambah jam tayang, itu akan semakin baik buat kami. . FYI, co writer saya sudah 4 orang dan mereka itu co writer yang sama dengan yang mengerjakan KC & CDR. Dulu mereka sanggup membantu saya, membuat alur KC & CDR. . Tapi sekarang, tidak ada yang sanggup dengan CHA ini karena ceritanya yang super2 complicated, multiplot dan multi karakter. Saya harus berjuang sendirian untuk ngeplot alur cerita. Jadi tolonglah, bantu saya untuk tidak komen tambah jam tayang.

A post shared by Dewi Pramita (@dewieyen) on

To be honest, saya juga nggak ngikutin CHA, hanya sesekali nonton cuplikannya di beberapa akun Instagram (esp. akunnya mbak Dewi). Sempat mencoba nonton di TV tapi agak kurang sreg karena talent-nya masih banyak yang aktingnya kaku. Bukan berarti ceritanya jelek, toh faktanya banyak yang suka. Mungkin saya saja yang kurang cocok. 

Baca lebih lanjut

2

Evaluasi Resolusi 2018

Bulan yang kurang produktif dari aktivitas blogging. Hyuft. Semoga bulan depan bisa lebih baik. Semangat!

Untuk menutup bulan ini, saya akan melakukan evaluasi singkat pada resolusi 2018 saya. Mengapa singkat? Karena pada dasarnya, belum banyak yang tercapai, terutama poin pertama (kurus). Hahaha. Walaupun demikian, minimal sudah ada dua poin yang mulai berjalan. 

Baca lebih lanjut

0

My Impressions: Si Juki The Movie

Mumpung belum lupa, saya mau sekalian nulis impresi setelah menonton Si Juki The Movie. Film ini adalah film pertama yang saya tonton setelah tidak nonton ke bioskop selama lebih dari tiga tahun. IMO, film ini juga lebih menghibur loh daripada film yang saya bahas di tulisan sebelumnya. :D

Saya nonton film ini di hari pertama pemutaran, yaitu tanggal 28 Desember 2017 yang lalu. Sebenarnya pingin nonton di Ciwalk, tapi di tanggal itu, Si Juki ternyata belum ada di Ciwalk. Alternatif yang paling dekat adalah di Empire (BIP). Jadilah akhirnya saya ke sana, lalu berbaris dalam antrian yang panjaaaang bersama dedek-dedek usia SMP-SMA yang datang secara rombongan demi menonton Surat Cinta untuk Starla. Hmm. Di situ kadang saya merasa tua. *_*

Sementara itu, penonton Si Juki rata-rata adalah rombongan anak-anak yang datang bersama orang tuanya. Ya memang hanya film ini yang rating-nya SU, walaupun saya akhirnya sedikit sangsi mengapa bisa diberi rating SU. 

no pic = hoax

Disclaimer: Tulisan ini sedikit mengandung spoiler. Dan seperti biasa, feel free to disagree, karena tulisan ini sangat subjektif. 

Cerita dibuka dengan adegan yang sama persis dengan teaser ini.

Baca lebih lanjut

1

My Impressions: Ayat-Ayat Cinta 2

Oh my goodness, akhirnya nonton film ini juga setelah baca resensi positif, negatif, bahkan yang penuh spoiler. Hahaha. Ada yang bilang, nggak asik nonton film kalo udah ada yang kasih spoiler. Well, elemen surprise-nya memang jadi berkurang ya, tapi tetap saja, ada bagian-bagian yang nggak ter-cover dalam spoiler. Juga tetap saja ada kesan yang berbeda antara baca spoiler dengan menonton langsung. 

Disclaimer: Ini bukan resensi, ini hanya impresi. Feel 100% free to disagree. Jika ingin membaca resensi, bisa cari di tempat lain, tidak di sini. 

no pic = hoax

Jadi, bagaimana kesan saya setelah nonton langsung?

Baca lebih lanjut